URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER

URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER

Situasi dan kondisi kondisi karakter bangsa yang sedang memprihatinkan telah mendorong pemerintah untuk mengambil inisiatif untuk mengambil inisiatif untuk memprioritaskan pembangunan karakter bangsa. Pembangunan karakter bangsa dijadikan arus utama pembangunan nasional.

Mengapa pendidikan karakter penting dan mendesak bagi bangsa kita, antara lain disebabkan karena bangsa kita telah lama memiliki kebiasaan-kebiasaan yang kurang kondusif untuk membangun bangsa yang unggul. Ada 55 kebiasaaan kecil yang menghancurkan bangsa menurut Ryan Sugiono.[10] Antara lain :

            Table 1. Kebiasaan-kebiaasaan memperlakukan diri Sendiri

 

Tidak dapat disangkal bahwa persoalan karakter dalam kehidupan manusia di muka bumi sejak dulu sampai sekarang dan juga zaman yang akan datang, merupakan suatu persoalan yang besar dan penting, kalau sejarah telah cukup banyak memperlihatkan kepada kita bukti bahwa kekuatan dan kebesaran suatu bangsa pada hakikatnya berpangkal pada kekuatan karakternya, yang menjadi tulang punggung bagi setiap bentuk kemajuan lahiriah bangsa tersebut.

Ary Ginanjar Agustian mengatakan bahwa saya semakin merasakan betapa pentingnya pendidikan karakter setelah mempelajari ilmu dan semangat samurai. Para samurai memiliki dua hal, yaitu WASA dan DoWasa artinya skill sedangkan Do artinya The Way of life ( prinsip hidup) yang dikenal Bushido.[11]

Para Samurai memiliki senjata yang disebut Katana atau Pedang. Pedang yang tajam tentu mengerikan dan berbahaya jika dimiliki oleh orang yang tidak bermoral. Pedang menjadi tidak berbahaya ketika pemegangnya mempunyai sifat yang disebut Bushido, yaitu amanah, pengasih, santun, sopan, mulia, hormat, dan lain-lain.

Seorang pembesar jepang sedang berada dalam perjalanan. Ia melihat sebongkah emas yang tampak jatuh dari caravan yang lewat sebelumnya. Saat itu ia berpapasan dengan pencari kayu yang sedang memikul bebannya. “ambillah emas itu untukmu”, kata pembesar tadi pada pencari kayu. Ia merasa iba dengan oranng yang tampak hidup susah itu hingga ingin membantu meringankan bebannya.

Bukannya mengambil emasnya, pencari kayu itu justru menasehati sang pembesar. “Tuan” ucapnya. “Tuan seperti seorang terhormat. Mengapa bicara begitu rendah. Saya memang pencari kayu, tapi saya bangga hidup dengan hasil keringat saya sendiri. Jangan pernah tuan meminta saya mengambil yang bukan hak saya”. Sang pembesar terkesima dengan sikap pencari kayu itu. Ia orang biasa, tetapi menjaga tegak karakter Bushido yang menjunjung tinggi Integritas dan kejujuran yang menjadi prinsip bushido. Kemajuan secara menyeluruh saat ini tidak lepas dari spirit bushido tersebut.  (Yagama SoKo). Gambaran bahwa jepang setiap dompet yang jatuh umumnya akan kembali dalam keadaan utuh merupakan refleksi teguhnya integritas dan kejujuran.

baca juga :