Tipe Supersales person

Tipe Supersales person

Tipe Supersales person
Tipe Supersales person

Wirausaha tipe supersales person mempunyai karakteristik sebagai berikut.

Capacity to understand and feel with another; to empathize

Supersales person menekankan interaksi individu, perasaan dan emosi. Seringkali orang tipe ini terfokus pada masa lalu dibandingkan dengan masa kini dan masa depan. Mereka spontan, persuasif, empati, setia ingin tahu dan introspektif. Mereka memandang nilai-nilai tradisional dan bisa mengungkapkan perasaan satu sama lain.

Mereka adalah pendengar yang baik, sangat suportif, bisa menerima saran dan kritik, hangat, menggunakan pendekatan persuasif, menerima loose control, lebih memilih komunikasi secara lisan daripada tertulis. Kemudian mereka cenderung fokus pada problem-problem yang kecil dan lebih berorientasi pada aksi daripada pembuatan rencana, mempunyai toleransi yang kecil terhadap ambiguitas, mempunyai bakat membangun tim, menyemangati partisipan saat bekerja dan suka menyelenggarakan rapat, lebih sering memilih organisasi yang tertata dengan baik, berorientasi terhadap orang-orang dan koleganya.

Karena orang tipe ini cukup sadar akan orang lain dan perasaannya, maka mereka membuat keputusan berdasarkan kondisi-kondisi personal, gosip, kabar angin, dan semacamnya. Mereka menyesuaikan setiap situasi dengan menekankan pada sisi keunikan dan bagaimana seorang individu akan merespon pada suatu keputusan. Konsekuensinya dalam penyelesaian masalah adalah supersalesperson senang menyenangkan orang lain, tidak menyukai berurusan dengan masalahmasalah yang akan menghadapkan mereka pada ketidaksenangan orang lain, responsif dan simpati pada masalah orang lain, menekankan pada aspek manusiawi yang berkaitan dengan kepentingan menejerial, dan memandang masalah-masalah dari ketidakefisienan dalam hubungan antar personal dan kesulitannya.

Jadi ketika ada hal negatif tentang supersales person, itu karena mereka terlalu perduli terhadap orang lain, mungkin sedikit terlalu sensitif, mereka kesulitan membuat keputusan yang sulit dan kesulitan untuk bilang tidak. Mereka bahkan bisa menjadi impulsif, sentimen, subjektif dan menunda-nunda, sebagai hasilnya mereka bisa secara tidak sengaja menimbulkan konflik

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/