Stake Holder Ahli Kejiwaan Seminarkan Skizofrenia

Stake Holder Ahli Kejiwaan Seminarkan Skizofrenia

Stake Holder Ahli Kejiwaan Seminarkan Skizofrenia
Stake Holder Ahli Kejiwaan Seminarkan Skizofrenia

BANDUNG – Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyelenggarakan Konferensi Nasional Psikiatri Komunitas ke-3 di Bandung pada 26-28 Maret 2014. Acara ini merupakan wadah untuk berbagi informasi dan solusi antara pemerintah, asosiasi profesional, dan komunitas menuju terjalinnya kerjasama dalam meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat terutama di Jawa Barat.

Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan seseorang menjalani hidup harmonis dan produktif di tengah masyarakat. Gangguan kesehatan jiwa yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat dapat menimbulkan berbagai dampak, seperti kekerasan di masyarakat, kenakalan remaja, pemasungan, hingga kecenderungan bunuh diri.

Dr. Suryo Dharmono, Sp.KJ(K), Ketua Seksi Psikiatri Komunitas PP PDSKJI, mengatakan, “Seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan, termasuk skizofrenia, akan mengalami gangguan produktivitas dan kapasitas bekerja serta bersosialisasi di masyarakat. Skizofrenia adalah penyakit kelainan mental yang ditandai gangguan proses berpikir
seperti halusinasi dan delusi, penderitanya dapat mengalami kelainan mental signifikan sepanjang hidupnya. Padahal 70% penderita jika mendapat penanganan tepat dapat pulih bahkan 30% di antaranya dapat sembuh sempurna.”

Konferensi Nasional Psikiatri Komunitas kali ini membahas bagaimana penanganan orang dengan masalah kejiwaan melibatkan tidak hanya pelayanan kesehatan tetapi peran serta masyarakat dalam memahami dan tergerak untuk melakukan metode penanganan kesehatan jiwa secara menyeluruh. “Edukasi ke masyarakat ini tentunya perlu dukungan dari berbagai institusi terkait mulai dari pemerintah pusat dan daerah, asosiasi profesi, dan komunitas,” tambah Dr. Suryo Dharmono, Sp.KJ(K).

Pemerintah menyadari meningkatnya permasalahan kesehatan jiwa saat ini sehingga diperlukan pendekatan dan solusi dengan langkah-langkah yang tepat. Dr. Eka Viora, Sp.KJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengatakan, “Kebijakan pemerintah untuk memudahkan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat diimplementasikan antara lain dengan disertakannya kesehatan jiwa Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) dan pendekatan yang bersifat lintas sektor melalui Tim Pembina, Pengarah, Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) yang keanggotaannya terdiri dari tingkat pemerintahan mulai dari pusat, propinsi, hingga kabupaten atau kota. Penanganan kesehatan jiwa tidak hanya dari sisi pemerintah, tetapi peran serta masyarakat dengan
pemahaman yang memadai sangat penting dalam mendukung program pemerintah menuju Indonesia Bebas Pasung.”

“Menurut data Riskesdas 2013, Jawa Barat tercatat memiliki 72.000 pasien dengan gangguan kejiwaan dan

10.000 di antaranya pernah dipasung. Pemerintah daerah tengah menggarap konsep yang bertujuan menjadikan Jawa Barat bebas dari masalah kesehatan jiwa melalui
kebijakan, teknis persiapan rumah sakit jiwa beserta tenaga kesehatannya, hingga sistem secara keseluruhan. Hal ini dapat ditangani secara terintegrasi dengan komunikasi lintas pemerintah mulai dari pusat, Jawa Barat dan pemerintah sekitar seperti DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Tengah,” ujar Dr. Hj. Alma Lucyati, M.Kes, Msi, MH.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat.

Salah satu kendala yang terjadi pada penderita kesehatan jiwa adalah masalah kepatuhan dalam

mengkonsumsi obat harian yang dapat mengakibatkan kondisi penderita semakin parah. Hal ini menjadi pendorong dikembangkannya sebuah konsep pelayanan kesehatan jiwa
Relapse Prevention Centre di Cirebon. Dr. Suryo Dharmono, Sp.KJ(K) memaparkan, “Secara umum, Relapse Prevention Centre bertujuan untuk memberikan terapi, edukasi, dan dukungan psikologis bagi pasien dan keluarga pasien secara komprehensif dan terintegrasi agar penderita kesehatan jiwa dapat beradaptasi untuk kembali di masyarakat dan komunitasnya.”

Dengan komitmen dari pemerintah dan asosiasi profesi dalam menangani masalah kesehatan jiwa,

masyarakat semakin teredukasi dan secara bertahap mengubah stigma negatif mengenai penderita gangguan kejiwaan. “Kami sangat mengapresiasi upaya berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap skizorenia dan memudahkan kami dalam
sosialisasi hingga pengobatan ke pasien. Salah satu bentuk sosialisasi kami adalah melalui Lighting The Hope for Schizophrenia yang merupakan kampanye kesadaran publik terhadap gangguan kejiwaan terutama Skizofrenia.” Ujar Bagus Utomo, Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI). tjo

 

Sumber :

https://insightmaker.com/article/169675/Understanding-Leadership-According-to-Experts