Sekilas Info Tentang Nila Gift

Sekilas Info Tentang Nila Gift

Nila gift ini merupakan bentuk dari perkembangan dari jenis ikan nila dengan varietas baru yang unggul. Maksud dari jemis mila GIFT itu sendiri yaitu Genetik Inprovment of Farmed tilapis) yang merupakan hasil persilangan dari beberapa varietas nila di berbagai dunia, hingga kini varietas nila baru ini sudah disebarluaskan ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia nila gift sudah ada sekitar awal tahun 1990 an. Namun, hingga tahun 1995 ikan ini masih belum menyebar ke seluruh pelosok tanah air.  Penyebarannya masih terbatas pada beberapa provinsi seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ini sebabkan masih terbatasnya jumlah induk hingga produksi benihnya hanya mampu memenuhi kebutuhan daerah tersebut. Namun, hingga awal 1999 penyebarannya sudah lebih luas lagi, hampir ke seluruh pelosok tanah air. Prospek pasar nila gift ini masih terbuka lebar dan setiap tahun semakin meningkat, tidak hanya di pasar lokal saja namun juga sudah menjajah di pasar ekspor. Hal itu dikarenakan nila gift ini dikonsumsi oleh semua golongan masyarakat maka kebutuhan akan nila ini tidak akan berkurang.

Sebagai ikan budidaya, nila gift ini menjadi komoditas perikanan yang bernilai ekonomis cukup tinggi karena selain dapat dijual dengan harga cukup tinggi, juga biaya produksinya tidak besar. Ikan nila bersifat omnivora, sehingga dalam pembudidayaannya akan sangat efisien, dan biaya pakannya rendah. Tidak heran kalau dengan pengelolaan secara komersial akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Selain bernilai ekonomis cukup tinggi, nila gift ini juga berperan dalam menunjang program usaha  peningkatan gizi bagi konsumen. Hal ini disebabkan karena kandungan protein yang tinggi serta rasanya enak.

Pertumbuhan ikan nila jantan dan betina dalam satu populasi akan selalu jauh berbeda, nila jantan 40% lebih cepat daripada nila betina. Disamping itu, yang betina apabila sudah mencapai ukuran berat 200 gram, prtumbuhannya semakin lambat, sedangkan jantan tetap tumbuh dengan pesat. Hal ini akan menjadi kendala dalam memproyeksi produksi. Ntuk mengatasi kendala tersebut, saat ini sudah dilakukan proses jantanisasi atau membuat populasi menjadi jantan semua. Yaitu dengan cara pemberian hormon 17 alpha methyltesteron selama perkembangan larva sampai umur 17 hari.

Pembenihan ikan nila dapat dilakukan secara masal di perkolaman secara terkontrol (pasangan) dalam bak-bak beton. Penijahan secara massal ternyata lebih efisien, karena biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dalam memproduksi larva untuk jumlah yang hampir sama. Pembesaran ikan nial dapat dilakukan di kolam, keramba jaring apung ataupun di tambak. Budidaya nila secara monokultur di kolam rata-rata prduksinya adalah 25.000 kg/ha/panen, dikaramba jaring apung 1.000kg/unit (50 m2)/panen (200.000 kg/ha/panen). Dan di tambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen.

Jika dibandingkan dengan nila lokal, nila gift memiliki beberapa perbedaan, yaitu:

  • Jumlah telurnya lebih banyak 20-30%
  • Berat benihnya mencapai 17,5 gram dan pertumbuhannya lebih cepat 300-400%.
  • Pertumbuhan saat pembesaran lebih cepat 100-200% dengan konversi pakan rendah, yaitu berkisar 0,8-1,2.
  • Tahan terhadap lingkungan yang kurang baik dan memiliki toleransi hidup di perairan dengan salinitas 0-15%, sehingga bisa dipelihara di perairan payau.
  • Tubuh nila gift lebih pendek dengan perbandingan panjang dan tinggi 2 : I, sedangkan perbandingan panjang dan tinggi tubuh nila lokal 2,5 : 1
  • nila gift tampak lebih tebal dengan perbandingan 4 : 1 dan nila local tampak lebih tipis dengan perbandingan 3: 1
  • ukuran kepala nila gift relatif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran kepala nila lokal
  • ukuran mata nila gift cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran mata nila lokal
  • Warna tubuh nila gift hitam keputihan dan bagian bawah tutup insangnya berwarna putih, sedangkan nila lokal berwarna putih.

Dalam memelihara ikan nila harus sangat berhati-hati. Ikan nila dapat saja terserang hama dan penyakit. Dimana penyakit pada ikan nila bisa ditularkan melalui aliran air, udara, dan dari kondisi lingkungan yang buruk. Beberapa hama ikan nilai yang paling sering dijumpai dan mempunyai efek mematikan diantaranya:

  • Notonecta

Masyarakat Jawa Barat menyebutnya bebeasan (menyerupai beras) karena terdapat bintik putih seperti beras. Hama ini menyerang benih ikan yang masih kecil. Upaya pencegahannya cukup sulit. Bila jumlahnya sudah terlalu banyak, hama ini bisa diberantas dengan menyiramkan minyak tanah pada kolam. Jumlah minyak tanah yang diperlukan 5 liter tiap 1000 m2 luas kolam. Cara ini cukup efektif menekan populasi notonecta.

  • Larva Cybister

Hama ini dikenal dengan nama ucrit, lebih mematikan dibanding notonecta. Warnanya kehijauan dan dapat bergerak dengan cepat. Bagian depan terdapat taring untuk menjepit mangsa, sedangkan di bagian belakangnya terdapat sengatan. Ucrit biasanya menyerang benih ikan. Ucrit menyukai lingkungan kolam yang banyak mengandung material organik. Untuk mencegahnya, bersihkan kolam secara rutin dari gulma dan sampah organik. Ucrit bila sudah dewasa akan bermetamorfosis menjadi kumbang yang bisa meloncat antar kolam. Hama ucrit sulit untuk dibasmi menggunakan bahan kimia, karena bahan kimia yang digunakan untuk membasmi ucrit, juga akan mematikan benih ikan nila itu sendiri. Oleh karena itu, hama ucrit hanya dianjurkan untuk diberantas secara mekanis dan mengefektifkan pencegahan.

Meskipun, Ikan nila dikatakan relatif tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan ikan mas atau yang lainnya secara umum terdapat dua tipe penyakit ikan nila, yaitu penyakit infeksi atau penyakit menular, dan penyakit non ineksi yaitu disebabkan oleh kondisi lingkungan yang buruk. Berikut beberapa penyakit ikan nila dari jenis penyakit infeksi yang sering dijumpai:

  • Trichodina sp.

Jenis mikroorganisme yang menjadi parasit pada ikan air tawar maupun ikan air laut. Parasit ini biasanya menyerang bagian luar seperti kulit, sirip dan insang. Tandanya terlihat luka pada organ-organi yang diserang. Bisa dicegah dengan menjaga sanitasi kolam dan memasang filter air atau bak pengendapan pada instalasi pengairan kolam. Pengobatan bisa dilakukan dengan merendam ikan yang sakit dalam larutan garam (NaCl) sebanyak 500-1000 mg/liter selama 24 jam. Atau dengan larutan formalin sebanyak 25 mg/liter.

  • Saprolegniasis.

Penyakit yang disebabkan oleh sejenis jamur. Biasanya menyerang telur, larva dan benih ikan. Bagian tubuh yang diserang organ-organ luar. Penampakan penyakit ini seperti benang halus berwarna putih atau putih kecoklatan. Pengobatan dilakukan dengan merendam telur atau ikan yang terserang dalam larutan malachite green 1 mg/liter selama 1 jam, atau larutan formalin 200-300 mg/liter selama 1-3 jam, atau NaCl 5 gram/liter selama 15 menit.

  • Epistylis spp

Parasit ini umumnya menyerang organ-organ bagian luar seperti kulit, insang dan sirip. Ciri-ciri ikan yang terserang bagian insangnya berwarna merah kecoklatan, ikan sukar bernapas, gerakan lambat, dan pertumbuhannya terhambat. Penularan penyakit terjadi karena kontak langsung dengan ikan yang sakit. Pencegahannya dengan mengurangi padat tebar ikan. Pengobatannya dapat dilakukan dengan merendam ikan dalam larutan formalin 200 mg/liter selama 40 menit, atau KMnO4 20 mg/liter selama 15-20 menit.

  • Bercak merah

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Aeromonas dan Pseudomonas. Menyerang organ bagian dalam dan luar. Ciri-cirinya ada pendarahan pada bagian tubuh yang terserang, sisik terkelupas, perut membusung. Bila menyerang kulit akan terlihat borok. Ikan terlihat lemah dan sering muncul ke permukaan kolam. Bila di bedah bagian dalamnya mengalami pendarahan pada hati, ginjal dan limpa. Pengobatan bisa dilakukan dengan cara menyuntik, perendaman atau dengan mencampur obat pada pakan. Obat perendaman kaliumpermanganat 10-20 mg/liter selama 30-60 menit. Penyuntikan dengan tetramysin 0,05 ml per 100 gram bobot ikan atau kanamysin 20-40 mg/kg bobot ikan. Pencampuran pada pakan dengan oxytetracylin 50mg/kg pakan, diberikan setiap hari selama 7-10 hari.


POS-POS TERBARU