Sanksi Cambuk dan Pengasingan

Sanksi Cambuk dan Pengasingan

Berbeda dengan rajam yang tidak secara tegas disebutkan didalam Al-Quran sanksi cambuk bagi pelaku jarimah zina ghairu muhsan secara eksplisit ditegaskan di dalam firman Allah SWT:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِأ ئَة جَلْدَةٍ

“ Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” (QS. Al-Nur: 2)

Ayat diatas tidak hanya menyebutkan jumlah cambukan, tetapi juga larangan belah kasih kepada pelaku. Selain itu, proses eksekusi hendaknya disaksikan oleh kaum muslimin agar menimbulkan efek jera dan dapat dijadikan pelajaran berharga. [5]

Adapun hadis yang menjelaskan sanksi pengasingan sebagai pelengkap dari sanksi cambuk sebagai berikut:

عَنْ زَيْدِ بْن خَالِدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم أَنَّهُ  أَمرَ فِيْمَنْ زَنَي وَلَمْ يُحْصَنْ

 بِجَلْدِ مِائَةِ  وَتَغْرِبِ عَامٍ

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, ia meriwatkan, “Aku mendengar Rasulullah SAW memerintahkan agar orang yang berzina ghairu muhsan dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun.” (HR Bukhari)

Dari hadis tersebut dapat diketahui bahwa sanksi bagi pelaku jarimah zina ghairu muhsan adalah dicambuk seratus kali dan diasingkn. Adapun mengenai waktu pelaksanaannya para ulama berbeda pendapat, apakah sanksi cambuk seratus kali dan pengasingan selama satu tahun harus dilakukan beriringan atau tidak. Masalah tersebut dijelaskan oleh Al-Jaziri sebagai berikut:[6]

  1. a)Madzab Maliki

Ulama Maliki berpendapat bahwa seorang perjaka merdeka yang melakukan jarimah zina harus dikenai sanksi pengasingan setelah dicambuk seratus kali. Pengasingan harus dilakukan selama satu tahun ditempat yang jauh dari tanah airnya. Hal ini dimasukkan sebagai celaan bagi pelaku dan menjauhkannya dari tempat berlangsungnya perzinaa.

Adapun bagi gadis yang telah melakukan jarimah zina, sanksi pengasingan tidak berlaku. Sebab, kalau gadis dihukum dengan pengasingan dikhawatirkan akan mengakibatkan munculnya fitnah.

  1. b)Madzab Syafi’i dan Hambali

Kedua madzab ini berpendapat bahwa pelaku zina ghairu muhsan yang kedua-duanya berstatus merdeka dan dewasa diberlakukan sanksi cambuk seratus kali dan diasingkan ketempat yang jauh. Kedua madzab ini memberlakukan pengasingan, baik terhadap perjaka maupun gadis. Namun, bagi si gadis harus disertai mahram yang akan menemani dan mengurusinya di tempat pengasingan.

  1. c)Madzab Hanafi

Madzab Hanafi berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku zina ghairu muhsan yang berupa cambuk seratus kali dan pengasingan tidak dapat dicampuradukan. Sebab, hukuman pengasingan sama sekali tidak disebutkan didalam Surah An-Nur ayat 2. Madzab ini bertumpu pada pandangan Imam Abu Hanifa yang berpendapat bahwa pengasingan termasuk ta’zir dan sangat erat kaitannya dengan konsep kemaslahatan.

Dari uraian diata dapat disimpulkan bahwa berdasarkan konsesus Jumhur Ulama pelaku jarimah zina ghairu muhsan harus dikenakan sanksi berupa hukuman cambuk seratus kali dan hukuman pengasingan selama satu tahun. Hanya saja untuk jenis hukumna pengasingan, menurut Imam Malik dan Al-Auza’i tidak diberlakukan bagi perempuan. Sementara itu menurut Imam Syafi’i, Ahmad, dan Dawud Al-Zahiri hukuman pengasingan tetap diberlakukan, baik perempuan maupun laki-laki.

Sementara itu dalam KUHP Republik Indonesia, kategori zina muhsan dan ghairu muhsan tidak dikenal. Dalam pasal 284, zina hanyalah yang pelakunya sudah terikat dengan akad nikah, yaitu kasus perselingkuhan yang terjadi di dalam rumah tangga dan termasuk dalam delik aduan, sehingga di samping KUHP tidak mengenal istolah zina ghairu muhsan, di dalamnya juga mengandung pengertian bahwa selama pelaku suami atau istri yang tetap merasakan aman dengan delik perzinaan yang dilakukan pasangannya, maka pelaku tidak dapat di tuntut karena tidak diadukan oleh pihak yang merasa dirugikan.[7]

 

sumber :

https://albeiroarciniegas.com/kingsman-apk/