Sangahan-sangahan Harald Mozki

Sangahan-sangahan Harald Mozki

Sangahan-sangahan Harald Mozki

Harald Motzki selaku Dosen Universitas Nijmegen Belanda ini tidak setuju dengan kesimpulan Schacht mengenai awal munculnya hadits. Sebab berdasarkan hasil analisis beliau terhadap sanad maupun matan hadis beliau menyimpulkan bahwa hadits-hadits yang terdapat dalam kitab al-Mushannaf karya Abdurrazzaq as-Shan’ani (w. 211 H/826 M) adalah kecil sekali kemungkinan adanya keberagaman data periwayatan hadis adalah suatu hasil pemalsuan yang terencana. Dengan demikian beliau menyatakan bahwa suatu matan hadis dan isnadnya dalam kitab-kitab hadis tersebut layak dipercaya.

Dengan demikian kesimpulan Motzki berbeda dengan orientalis skeptisisme seperti Schacht  dan Ignaz Golzher yang menganggap semua hadits adalah palsu. Karena Motzki telah membantah teori Schacht yang mengungkapkan bahwa isnad cenderung membengkak jumlahnya makin ke belakang, dan teorinya bahwa isnad yang paling lengkap adalah yang paling belakangan munculnya.

Berkenaan dengan sejarah munculnya hukum Islam Motzki juga tidak sependapat dengan Schacht. Menurut Motzki, Al-Quran dan hadits sudah dipelajari semenjak abad kedua hijriyah atau bahkan sejak Nabi Muhammad Ṣalla Allah ‘Alaihy wa Sallam masih hidup, karena para fuqaha di Hijaz sudah menggunakan hadis sejak abad pertama hijriyah. Oleh karena itu, Motzki pun sepakat dengan Coulson, yang mengusulkan agar para orientalis membalik tesis Schacht, dari via negativ menjadi via positiv. yakni jika Schacht berkata semua hadits harus dianggap tidak otentik hingga terbukti keotentikannya, maka harus dilbalik menjadi menjadi pernyataan “semua hadits harus dianggap otentik kecuali jika terbukti ketidak otentikannya”.

Berbeda dengan pendapat Schacht dan Juynboll yang menganggap common link sebagai pemalsu atau pemula bagi sebuah hadis, maka Motzki pun menafsirkan common link sebagai penghimpun hadis yang sistematis pertama, yang berperan merekam dan meriwayatkannya dalam kelas-kelas regular, dn dari kelas-kelas itulah system belajar yang terlembga berkembang.[6]

Hadis-hadis yaga ada pada kitab Musannaf Abd ar-Razaq mempunyai beberapa Rawi yang menjadi fokus penelitian sanad yang merupakan sumber utama untuk mengetahui keaslian hadis tersebut bersambung pada Nabi Muhammad Ṣalla Allah ‘Alaihy wa Sallam. Ada tiga perawi yang merupakan guru-guru paling berpengaruh bagi as-Shan’aniy yang menjadi fokus penelitian sanad motzki, yaitu Ma’mar, Ibn Juraij dan Sufyan ats Tsauri.

Dari hasil penelitian tersebut, beliau mengungkapkan bahwa dari segi materi hadis, as-Shan’ani memiliki keunikan tersendiri. Dan hampir tidak mungkin seorang pemalsu dapat memberikan sumber yang begitu bervariasi. Belum lagi jika penelitian ini difokuskan pada asal perawi dan karakter teks yang diriwayatkan.

Beliau melanjutkan, faktor lainnya adalah gaya penyajian al-Shan’aniy yang terkadang secara jujur mengakui ketidakpastian sebuah riwayat. Suatu hal yang tidak mungkin ditemui pada orang-orang yang melakukan pemalsuan. Oleh karena itu, pada Musannaf ini jelas bahwa sebuah hadis itu memang sudah ada sejak abad pertama hijriah dan bersambung pada Nabi Ṣalla Allah ‘Alaihy wa Sallam. serta diriwayatkan oleh para shahabah, hingga otensitasnya terjaga sampai pada masa kodefikasi.[7]

Adapun kelebihan dari hasil penelitian beliau adalah beliau mampu menjelaskan secara logis tentang otensitas hadis yang didasarkan pada data sejarah. Selain itu, beliau juga menggunakan literatur-literatur hadis yang sering digunakan oleh umat Islam. Dan kekurangannya adalah kurangnya interprretasi sejarah karena beliau hanyaterfokus pada otensitas hadis. Selain itu, beliau juga hanya terpaku pada kajian kitab Musannaf as-Shan’aniy yang tidak bisa digeneralisir pada kitab-kitab hadis lainnya, karena setiap kitab hadis memiliki ciri khas tersendiri.[8]

  1. Otentisitas  Hadis Menurut Perspektif Harald   Motzki

Harald Motzki termasuk tokoh orientalis yang dipengaruhi dan terinspirasi oleh tesis Schacht. Hal ini terlihat dalam karyanya yang berjudul The Origin of Islamic Jurisprudence Meccan Fiqh before Classical Schools. Dalam karyanya tersebut Motzki berpijak pada tesis yang yang dibangun oleh Schacht, meskipun pada kesimpulan terakhir Motzki memiliki pandangan yang berbeda dengan Schacht. skeptis yang ditunjukkan oleh Schacht terhadap keorisinalitasan hadis yang Berdasarkan dari penelitiannya, ia berpendapat bahwa “ hadis tidak lebih dari produk ulama abad 2 H ”. Hal ini berpengaruh pada perjalanan akademik Motzki. Dengan melakukan penelitian terhadap Mushannaf Abdul Razzaq, Motzki menelusuri beberapa riwayat yang terdapat dalam kitab tersebut. Sehingga berdasarkan penelitiannya, Motzki menolak klaim Schacht dan ia berpendapat bahwa “ hukum islam sudah ada sejak abad pertama hijriah bahkan jurispundensi islam sudah ada sejak zaman nabi ”.

sumer :

Prune 1.1.3 Apk + Mod for android