Sabah dan Serawak dan diperintah oleh Keturunan Sultan

BRUNEI DARUSSALAM

Latar Belakang Brunei Darussalam

Brunei Darussalam atau yang biasa disebut Negara Brunei Darussalama adalah sebuah negara kecil yang makmur di bagian utara Pulau Borneo/Kalimantan. Brunei diapit oleh dua wilayah Malaysia, Sabah dan Serawak dan diperintah oleh Keturunan Sultan. Brunei memiliki sejarah yang panjang. Pada zaman dahulu, Brunei disebut Kerajaan Borneo. Ada juga yang berpendapat Brunei berasal dari kata “baru nah” yang dalam sejarah dikatakan bahwa pada awalnya ada rombongan klan atau Suku Sakai yang dipimpin Pateh Berbai pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Kemudian perkataan “baru nah” itu lama kelamaan berubah menjadi Brunei. Klan atau suku Sakai yang dimaksudkan adalah serombongan pedagang dari China yang gemar berniaga dari suatu tempat ke tempat lain. Karena itu, Kerajaan Brunei pada awalnya adalah pusat perdagangan orang-orang China.
Kerajaan Brunei pernah dijajah oleh Sriwijaya yang berpusat di Sumatera pada awal abad ke-9 dan juga pernah dijajah oleh Kerajaan Majapahit yang berpusat di Pulau Jawa, tetapi berhasil membebaskan dirinya dan kembali menjadi sebuah negara yang penting. Kerajaan Brunei mencapai masa kejayaannya dari abad ke-15 sampai ke-17. Kekuasaannya mencapai seluruh pulau Borneo dan sampai ke Filipina di sebelah utara. Kejayaan ini dicapainya terutama pada masa pemerintahaan Sultan kelima Bolkiah.
Pada tahun 1839 James Brooke dari Inggris datang ke Kuching,Serawak yang menandai awal mula pengaruh Inggris di Bunei. James Brooke mencuri perhatian wakil Sultan Brunei di Serawak, Pangiran Muda Hashim setelah berhasil mengatasi pemberontakan kecil di Serawak. Hal tersebut Kemudian pada tahun 1841, ia diangkat menjadi pemegang kuasa atau wakil Sultan Brunei untuk daerah Serawak.
Pada masa kekuasaan Sultan Omar Ali Saifuddin II terjadi konflik internal keluarga di raja Brunei, yakni pertentangan yang berakhir dengan pembunuhan pangiran Muda Hashim dan keluarga ada akhir bulan Oktober 1845 atas perintah Sultan Omar Ali Saifudin II. Keadaan ini dimanfaatkan Inggris untuk melakukakan tekanan terhadap Sultan Omar Ali Saifudin II dengan memaksa Sultan menyerahkan Pulau Labuan kepada Inggris. Akhirnya, sekitar tanggal 18 Desember 1846 Pulau Labuan dan sekitarnya diserahkan kepada Inggris.
Pada tahun 1847, Brunei menandatangani perjanjian Persahabatan dan Perdagangan dengan Inggris, yang berisi hak-hak istimewa di bidang perniagaan dan ekstra teritorial kepada warga Inggris yang berniaga di Brunei. Bahkan pada tahun 1888, Brunei meletakan dirinya dibawah kekuasaan Inggris yang berarti ia menjadi negara persemakmuran Inggris. Pada tahun 1906 Brunei memberi hak kuasa kepada Kerajaan Inggris untuk menempatkan seorang residen di Brunei. Sejak itu mulailah era baru sistem pemerintahan di Brunei yaitu Keresidenan. Dengan itu, Brunei telah kehilangan kemerdekaan dan kebebasannya. Sultan tidak lagi berkuasa secara penuh karena yang memegang kekuasaan secara de facto adalah Residen Inggris.
Pada tahun 1959, Brunei mengeluarkan sebuah konstitusi baru yang menyatakan pembentukan pemerintahan sendiri, sedangkan urusan luar negeri, pertahanan dan keamanan tetap menjadi tanggung jawab Inggris. Sebenarnya Brunei sudah berusaha untuk membentuk badan legislatif terpilih yang diwakili oleh partai politik, namun usaha tersebut gagal akibat pemberontakan yang dilakukan oleh partai oposisi, Partai Rakyat Brunei pada tahun 1962. Pemberontakan bersenjata tersebut berhasil digagalkan oleh pasukan bersenjata Inggris.
Pada awal tahun 1960-an, Brunei pernah mendapat tawaran untuk bergabung dengan Malaysia, negara tetangga yang baru saja merdeka. Namun tawaran tersebut ditolak, Sultan tetap memutuskan untuk membentuk Brunei sebagai negara yang terpisah dari Malaysia. Pada tahun 1967, Sultan Omar Ali Saifuddin III turun takhta dan digantikan anak sulungnya, Sultan Hassanal Bolkiah. Omar Ali Saifuddin kemudian bersedia menjadi menteri pertahanan setelah Brunei mencapai kemerdekaan penuh dan dia menyandang gelar “Paduka Seri Begawan”.
Pada tahun 1970, pusat pemerintahan negeri Brunei Town berubah nama menjadi Bandar Seri Begawan dengan tujuan untuk menghormati jasa Sultan Omar Ali Saifuddin III. Akhirnya, pada tanggal 1 Januari 1984 Brunei menyatakan kemerdekaannya yang menandai kebebasannya dari protektorat Inggris. Saat ini Brunei memiliki wilayah yang lebih kecil dari masa lalu, dengan berbatasan dengan Serawak dari sebelah barat sampai timur wilayah itu, serta sebelah utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan.


Sumber: https://bengkelharga.com/