Periwayatan Hadits Secara Makna

Periwayatan Hadits Secara Makna

Periwayatan Hadits Secara Makna
Periwayatan Hadits Secara Makna

 

Penjelasan

Sering dijumpai di dalam kitab-kitab Hadits perbedaan redaksi dari matan suatu Hadits mengenai satu masalah yang sama. Hal ini tidak lain adalah karena terjadinya periwayatan Hadits yang dilakukan secara maknanya saja (riwayat bi al-ma’na), bukan berdasarkan redaksi yang sama sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah SAW. Jadi, periwayatan Hadits yang dilakukan secara makna, adalah penyebab terjadinya perbedaan kandungan atau redaksi matan dari suatu Hadits. Suatu hal yang perlu dipahami, sebagaimana yang telah diuraikan pada bab terdahulu, bahwa tidak seluruh Hadits ditulis oleh para Sahabat pada masa Nabi SAW masih hidup. Dan, bahkan keadaan yang demikian terus berlanjut sampai pada masa Sahabat dan Tabi’in, sebelum inisiatif penulisan dan pembukuan Hadits secara resmi diambil oleh Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz di penghujung abad pertama Hijriah dan di awal abad kedua Hijriah. Selama masa tersebut, sebagian dari Hadits-Hadits itu, terutama yang terdapat pada perbendaharaan Sahabat dan Tabi’in yang menolak untuk menuliskan Hadits, diriwayatkan hanya melalui lisan ke lisan.

Dalam hal periwayatan Hadits tersebut, yang memungkinkan untuk diriwayatkan oleh para sahabat sebagai saksi pertama sesuai/sebagaimana menurut lafaz atau redaksi yang disabdakan Rasul SAW (riwayat bi al-lafzh), hanyalah Hadits dalam bentuk sabda (aqwal al-Rasul). Sedangkan Hadits-Hadits yang tidak dalam bentuk perkataan, seperti Hadits Afal (perbuatan-per- buatan) dan Hadits Taqrir (pengakuan dan ketetapan) Rasul SAW, hanya dimungkinkan diriwayatkan secara makna (riwayat bi al-ma’na).

Hadits dalam Bentuk Akwal

Hadits-Hadits yang dalam bentuk aqwal pun, tidak seluruhnya dapat diriwayatkan secara lafaz. Hal tersebut disebabkan tidak mungkin seluruh sabda Nabi SAW itu dihafal secara harfiah oleh para Sahabat dan demikian juga oleh Tabi’in yang datang kemudian. Sebab lainnya, juga tidak semua Sahabat mempunyai kemampuan menghafal dan tingkat kecerdasan yang sama, dan hal ini memberi peluang terjadinya perbedaan redaksi dan variasi pemahaman terhadap redaksi Hadits yang diterima mereka dari Nabi SAW, yang selanjutnya akan berpengaruh ketika mereka meriwayatkannya kepada Sahabat yang tidak mendengar secara langsung dari Nabi SAW, atau kepada para Tabi’in yang datang kemudian.

Sahabat Yang Membolehkan Periwayatan Hadits Secara Makna

Selain itu, terdapat sebagian Sahabat yang membolehkan periwayatan Hadits secara makna. Di antara mereka itu adalah: ‘Abd Allah ibn Mas’ud, Abu Darda’, Anas ibn Malik, ‘A’isyah, ‘Amr ibn Dinar, ‘Amir al-SyaTa, Ibrahim al-Nakha’i, dan lain-lain.

‘Abd Allah ibn Mas’ud, misalnya, ketika meriwayatkan Hadits kadang-kadang mengatakan:
Bersabda Rasulullah SAW begini, atau seperti ini, atau mendekati pengertian ini.
A’isyah r.a. suatu ketika menjawab pertanyaan ‘Urwah ibn Zubair ketika Ibn Zubair menanyakan kepadanya tentang perbedaan redaksi dari suatu Hadits yang diperolehnya melalui A’isyah, dengan mengatakan:

Maka dia (A’isyah) menjawab, “Apakah engkau mendengar perbedaan dalam maknanya?” Aku (Ibn Zubair) mengatakan, “Tidak.” A’isyah selanjutnya mengatakan, “Hal tersebut (periwayatan dengan redaksi yang berbeda, namun maknanya sama) tidak mengapa (yaitu boleh) untuk dilakukan.”

Kalangan Tabi’in

Di kalangan Tabi’in dan Ulama yang datang kemudian, juga ada yang membolehkan periwayatan Hadits secara makna, seperti Al-Hasan al-Bashri, Ibrahim al-Nakha’i, dan ‘Amir al-Sya’bi. Mereka memberikan isyarat kepada para pendengar atau yang menerima riwayat mereka bahwa sebagian Hadits yang mereka riwayatkan tersebut adalah secara makna. Hal tersebut mereka lakukan dengan cara mengiringi riwayat mereka itu dengan kata-kata “sebagaimana sabda beliau” , atau dengan kata-kata “dan yang seumpama ini”.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/