Perawi Kutub Al-Sittah

Perawi Kutub Al-Sittah

Perawi Kutub Al-Sittah

Istilah kutub al-sittah digunakan untuk menyebut enam kitab induk hadist, yaitu sebagai berikut:

  1. Shahih Al-Bukhari

Ishaq Ibn Ruhawaih salah seorang guru Imam Al-Bukharoi pernah berwasiat kepadanya “Hendaklah engkau menyusun sebuah kitab yang khusus berisi sunnah rasul yang shahih”. Wasiat keinginan gurunya inilah yang mendorong dan mengilhami Imam Al-Bukhari untuk menyusun sebuah kitab yang berbeda dari kitab-kitab yang telah disusun oleh ulama sebelumnya, yaitu dengan cara mebukukan hadist-hadist yang shahih saja . untuk itu kitab susunannya ia beri judul dengan nama al-jam’i, al-musnad al-shahih al-mukhtasar min umur rasul  Allah wa sunnanih wa ayyamih.

Menurut Muhammad Ajjaj Al-Khatib, yang dimaksud dengan kata Al-Jami’ dalam judul diatas adalah dalam kitab tersebut termuat hadist-hadist tentang hukum, keutamaan amal, tata pergaulan, sejarah dan kabar yang akan datang. Sedangkan kata Al-Musnad mengandung arti bahwa Immam Al-Bukhari hanya memasukkan hadist-hadist yang sanadnya bersambung sampai Rasulullah, dan kata Al-Sahih dimaksudkan bahwa dalam kitab tersebut tidak dimasukkan hadist-hadist yang da’if.

  1. Shahih Muslim

Kitab himpunan hadist sahih karya Muslim ini judul aslinya ialah Al-Musnad Al-Sahih Al-Mukhtasar min Al-Sunan bi Al-Naql Al-Adl ‘an Al-Adl ‘an-Rasul Allah saw, namun lebih dikenal dengan nama al-Jami’ al-Sahih’ atau sahih Muslim.

Penyusunan kitab ini memakan waktu lima belas tahun. Immam Muslim mengerjakan proyek monumental ini secara terus-menerus. Proses persiapan dan penyusunan kitabnya itu beliau lakukan baik ketika sedang berada di tempat tinggalnya maupun dalam perlawatan ke berbagai wilayah. Dalam penggarapannya, beliau menyeleksi ribuan hadist baik dari hafalannya maupun catatannya. Informasi lain menyatakan bahwa kitab Al-Jami’ Al-Sahih atau Sahih Muslim ini merupakan hasil seleksi dari sejumlah 300.000 hadist.

Kitab ini memuat hadist yang cukup banyak. Hanya saja mengenai penentuan jumlah hadistnya, terdapat informasi atau pendapat yang berbeda-beda. Menurut keterangan Ahmad bin Salamah, salah seorang sahabat Immam Muslim sekaligus sebagai penulis naskah kitab ini, ia menyatakan bahwa dalam Sahih Muslim memuat 12.000 hadist. Sementara yang lainnya ada yang menyatakan berjumlah 7.275 hadist, 5632 hadist, 4000 hadist, dan 3033 hadist.

  1. Sunan An-Nasa’i

Imam Nasa’I mempunyai hafalan dan kepahaman yang jarang dimiliki oleg orang-orang pada zamannya, sebagaimana beliau memiliki kejelian dan ketelitian yang sangat mendalam, maka beliau dapat meriwayatkan hadist-hadist dari ulama-ulama kibar, berjumpa dengan para imam huffazh dan yang lainnya, sehingga beliau dapat menghafal banyak hadist, mengumpulkannya dan menuliskannya, sampai akhirnya beliau memperoleh derajat yang pantas dalam disiplin ilmu.

Beliau menuliskan hadist dhaif sebagaimana beliau pun telah menuliskan hadist shahih, padahal pekerjaan ini hanya dilakukan oleh ulama pengkritik hadist, tapi beliau mampu melakukan pekerjaan ini, bahkan beliau memiliki kekuatan kritik yang detail dan akurat.

Imam Nasa’I mempunyai lawatan ilmiah cukup luas, beliau berkeliling kenegeri Islam, baik timur maupun di barat, hingga beliau dapat mendengarkan daei banyak orang yang mendengar hadist dari para hafidz dan syaikh.

  1. Sunan Abi Dawud

Abi dawud termasuk ulama yang mencapai derajat tinggi dalam beribadah, kesucian, kesalihan dan wara’ yang patut diteladani. Sifat dan kepribadian seperti ini menujukkan kesempurnaan beragama, perilaku dan akhlak Abu Dawud mempunyai filsah tersendiri dalam berpakaian. Salah satunya lengan bajunya lebar dan satunya sempit. Bila ada yang bertanya, dia menjawab “lengan yang lebar untuk membawa kitab, sedangkan yang satunya tidak diperlukan, kalua dia lebar berarti pemborosan.”

Ulama memuji Abu Dawud, beliau adalah tokoh ahli hadist yang menghafal dan memahami hadist beserta illatnya. Dia mendapatkan kehormatan dari para ulama terutama gurunya Imam Ahmad Bin Hanbal. Al Hafiz Musa bin Harun berkata “ Abi Dawud diciptakan dunia untuk Hadist, dan akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama dari dia.”

  1. Sunan Al-Tirmidzi

Beliau memiliki kelebihan hafalan yang begitu kuat dan otak encer yang cepat menangkap pembelajaran. Imam Tirmidzi keluar dari negerinya menuju ke Khurasan, Iraq dan Haramain dalam rangka menuntut ilmu. Disana beliau mendengarkan kalangan ulama yang beliau temui, sehingga dapat mengumpulkan hadist dan memahaminya. Akan tetapi sangat disayangkan beliau tidak masuk ke daerah Syam dan Mesir, sehingga hadist-hadist beliau di riwayatkan dari ulama kalangan Syam dan Mesir harus melalui perantara.


Sumber: https://multiply.co.id/wild-west-race-apk/