Penelitian Prediktif

Penelitian Prediktif

            Dalam pelaksanaan  di bidang pendidikan, banyak situasi yag menghendaki dilakukannya prediksi atau peramalan. Pada tahun ajran baru, misalnya, setiap sekolah karena keterbatasan fasilitas, seringkali harus menyeleksi para pendaftar yang akan diterima menjadi calon siswa baru.

            Penelitian korelasi jenis ini memfokuskan pada pengukuran terhadap satu variabel atau lebih yang dapat dipakai untuk memprediksi atau meramal kejadian di masa yang akan datang atau variabel lain. Penelitian ini sebagaimana penelitian relasional, melibatkan penghitungan korelasi antara suatu pola tingkah laku yang kompleks, yakni variabel yang menjadi sasaran prediksi atau yang akan diramalkan kejadiannya (disebut kriteria), dan variabel lain yang diperkirakan berhubngan dengan kriteria, yakni variabel yang dipakai untuk memprediksi (disebut prediktor). Teknik yang digunakan untuk mengetahui tingkat prediksi antara kedua variabel tersebut adalah tehnik analisis regresi yang menghasilkan koefisien regresi.

            Perbedaan yang utama antara penelitian relasional dengan penelitian jenis ini terletak pada asumsi yang mendasari hubungan antar variabel yang diteliti. Dalam penelitian relasional, peneliti berasumsi bahwa hubungan antara kedua variabel terjadi secara dua arah. Dengan kata lain, ia hanya ingin menyelidiki apakah kedua variabel memiliki hubungan, tanpa memiliki anggapan bahwa variabel yang muncul lebih awal dari yang lain. Oleh karena itu, biasanya kedua variabel diukur dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan dalam penelitian prediktif, disamping ingin menyelidiki hubungan dua variabel, peneliti juga memiliki anggapan bahwa salah satu variabel muncul lebih dahulu dari yang lain, atau hubungan satu arah. Oleh karena itu, tidak seperti penelitian relasional, kedua variabel diukur dalam waktu yang berurutan, yakni variabel prediktor diukur sebelum variabel kritria terjadi, dan tidak dapat dilakukan sebalikny

baa juga :