Pendaftar SNMPTN 2019 Menurun, Apa Penyebabnya?

Pendaftar SNMPTN 2019 Menurun, Apa Penyebabnya?

Pendaftar SNMPTN 2019 Menurun, Apa Penyebabnya
Pendaftar SNMPTN 2019 Menurun, Apa Penyebabnya

Proses seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) 2019 diperketat. Kementerian Riset,

Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengaku siswa pendaftar SNMPTN tahun ini lebih sedikit dibanding 2017 dan 2018 lalu.

Berdasar data Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), jumlah sekolah yang mengisi PDSS pada 2017 mencapai 14.790 dengan jumlah pendaftar sebanyak 517.166 siswa, dan penerimaan sejumlah 130.854 siswa. Pada 2018 jumlah sekolah mengisi PDSS yakni 18.558 sekolah dengan jumlah pendaftar sebanyak 586.155 siswa dan sebanyak 144.450 siswa yang diterima.

Sementara itu, pada 2019 ada 18.206 sekolah yang mengisi PDSS. Hasil seleksi yang diumumkan pada Jumat

(22/3) mencatat hanya 478.608 siswa yang mendaftar dan 137.149 siswa dinyatakan lulus SNMPTN 2019.

“Kami ingin menjaring. Dulu itu mendaftar dibuka secara lebar, toh akhirnya yang diseleksi anak-anak yang ranking-nya adalah di angka itu. Sehingga kami dorong kita kurangi dari presentase (per PTN). Kami ketatkan supaya nanti selektivitasnya makin sederhana, makin sedikit,” ujar Menristekdikti Mohamad Nasir di Jakarta, Kamis (28/3).

Dia menegaskan, siswa yang tidak mendapat kuota mendaftar ataupun tidak lulus SNMPTN bisa langsung

mengikuti pendaftaran ujian tulis berbasis komputer (UTBK) untuk jalur SBMPTN.

“Dan kami buka kepada anak-anak Indonesia yang dalam seleksi ini tidak masuk agar mengikuti SBMPTN. Kita ingin melihat perbandingan antara sekolah yang bermutu, dan sekolah yang sebenarnya tidak bermutu tapi proses pembelajarannya kurang baik di sekolah itu. Itu di SBMPTN,” katanya.

“(Sedangkan) proses seleksi di SNMPTN kan itu berbasis portofolio, berbasis nilai rapor sekolah, prestasi anak yang bersangkutan,” tambah dia.

Nasir memaparkan 10 program studi SAINTEK dengan keketatan tertinggi antara lain:

1. Prodi Teknik lnformatika Universitas Padjadjaran (1,39 persen);

2. Prodi Teknik lnformatika Universitas Hasanuddin (1,71 persen);

3. Prodi Farmasi Universitas Jenderal Soedirman (1,77 persen);

4. Prodi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Jenderal Sudirman (1,80 persen);

5. Prodi Farmasi Universitas Padjadjaran (1.80 persen);

6. Prodi Farmasi Universitas Syah Kuala (1,81 persen);

7. Prodi Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro (1,82 persen);

8. Prodi Psikologi Universitas Padjadjaran (1,83 persen);

9. Prodi llmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman (1,86 persen);

10. Prodi Keperawatan UPN “Veteran” Jakarta (1,99 persen).

Kemudian, 10 program studi SOSHUM dengan keketatan tertinggi yaitu:

1. Prodi Manajemen Universitas Negeri Jakarta (0,71 persen);

2. Prodi llmu Komunikasi Universitas Negeri Jakarta (1,16 persen);

3. Prodi Akuntansi Universitas Negeri Jakarta (1,17 persen);

4. Prodi Manajemen Universitas Padjadjaran (1,30 persen);

5. Prodi PGSD Universitas Sriwijaya (1,32 persen);

6. Prodi Sastra lnggris Universitas Negeri Jakarta (1,55 persen);

7. Prodi Pariwisata Universitas Gajah Mada (1,72 persen);

8. Prodi Manajemen Universitas Negeri Yogyakarta (1,90 persen);

9. Prodi llmu Hubungan lnternasional Universitas Gajah Mada (1,91 persen);

10. Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta (1,92 persen).

 

Baca Juga :