Pemda Diizinkan Intervensi untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan

Pemda Diizinkan Intervensi untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan

Pemda Diizinkan Intervensi untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan
Pemda Diizinkan Intervensi untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, dalam meningkatkan mutu pendidikan diperlukan intervensi dari pemerintah daerah (Pemda) dalam kebijakan-kebijakan. Terlebih anggaran pendidikan telah dialokasikan dari pusat kepada daerah senilai 62%.

Dalam hal ini, Pemda memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah masing-

masing. Sedangkan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memberikan solusi pada daerah melalui kebijakan pendidikan seperti hasil pemetaan Ujian Nasional (UN). Pasalnya, hasil UN ini memberikan diagnosa sedetail mungkin, sehingga sekolah dapat mengunakan hasil UN ini sebagai alat refleksi untuk peningkatan mutu pendidikan, mulai dari pelatihan guru.

“Pemda dan sekolah melakukan evaluasi pendidikan menggunakan hasil UNBK (ujian nasional berbasis komputer), karena hasil yang dicapai murni hasil karya siswa. Hasil UN ini mau digunakan secara detail agar pelatihan terhadap guru berbeda-beda,” ujar Muhadjir saat membuka Seminar on PISA: Assessing 21st Century Life Skills di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Senin (8/7/2019).

Selanjutnya, Muhadjir menuturkan, akan terus memperbaiki hasil indeks integritas (IIUN) dengan mendorong sekolah beralih dari ujian nasional pensil kertas (UNPK) menjadi UNBK, agar kemampuan siswa benar-benar terukur. Sehingga hasil UN ini yang merupakan standar capaian nasional pendidikan dapat sejajar dengan standar capaian pendidikan internasional seperti studi programme for international student assessment (PISA) yang telah disepakati oleh negara-negara sebagai salah satu standar pendidikan secara internasional.

Perlu diketahui, soal UN yang diujikan kepada siswa telah mengarah pada soal PISA yakni fokus pada higher

order thinking skills (HOTS) yang meliputi 5C meliputi critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreativitas), collaboration (kolaborasi), communication (komunikasi), dan confidence (percaya diri).

Meski begitu, Muhadjir juga berharap ada pemahaman yang utuh ketika membahas tentang PISA. Sebab selama ini, hasil PISA selalu menyebabkan rasa pesimistis terhadap pendidikan Indonesia, karena hasil studi PISA Indonesia lebih rendah dari negara Asean lainnya seperti Singapura maupun Vietnam.

Misalnya, jumlah siswa Indonesia mencapai 51 juta siswa. Hal ini tidak dapat dibandingkan dengan Singapura

yang hanya mencapai dua juta siswa. Selain itu penyebaran siswa Indonesia yang tidak merata.

“Siswa di Singapura diuji yang di kota saja, sementara kita negara kepulauan dan disparitas luar biasa baik secara persial (wilayah,red) maupun struktrual yang terkait dengan kebijakan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Muhadjir berharap ada strategi yang adil membuat penilaian capain dari proses pembelajaran yang tidak dilihat dari hanya score saja tetapi lainnya seperti pendidikan karakter. Lanjut Muhadjir, saat ini Organisation for Economic Co-operation and Development’s (OECD) sedang mempertimbangkan penilaian PISA memasukan poin karakter.

 

Sumber :

http://blog.ub.ac.id/petrusarjuna/sejarah-arya-damar/