Pembahasan Tentang Waktu Dalam Islam

Pembahasan Tentang Waktu Dalam Islam

Pembahasan Tentang Waktu Dalam Islam
Pembahasan Tentang Waktu Dalam Islam

Realita kehidupan manusia dengan waktu

Bila dilihat realita keadaan kehidupan manusia dengan waktu dan bila ditanya untuk apakah mereka diciptakan maka kebanyakan mereka akan menjawab bahwa kami diciptakan untuk makan, untuk minum, untuk bersenang-senang, untuk membangun gedung dan memperbanyak keturunan, dan ini adalah kenyataan yang banyak kita temukan.
Kalau untuk itu manusia diciptakan maka tidak ada bedanya dia dengan binatang ternak atau hewan, karena yang menjadi harapan dan yang dicari dalam hidup binatang adalah: makan,minum bersenang-senang dengan kenikmatan dunia tanpa memperhatikan apakah itu halal atau haram.

Penciptaan manusia untuk tujuan yang mulia

Tujuan penciptaan manusia berbeda dengan makhluk yang lain. Manusia diciptakan untuksuatu tujuan yang sangat mulia yaitu untuk beribadah kepadanya, dimana dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”. (QS. adz-Dzaariyat: 56)
Imam Nawawi rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut berkata bahwa: ayat ini secara jelas menerangkan kepada kita bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, maka wajib bagi setiap manusia memperhatikan tujuan tersebut dan berpaling dari kemewahan dunia yang disertai zuhud, karena dunia adalah negeri fana bukan negeri yang kekal dan abadi. Dunia adalah tempat persinggahan bukanlah tempat yang kekal untuk dihuni selama-lamanya.

Didalam Hadits yang Shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jagalah lima perkara sebelum datang yang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu senggangmu sebelum datang waktu sempitmu, masa hidupmu sebelum datang waktu kematianmu.” (HR. Bukhori)

Hadits di atas memiliki makna yang dalam bagi kita tentang menjaga nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pada intinya nikmat-nikmat tersebut tidak bisa dipisahkan dengan waktu.

Ketahuilah bahwa umur manusia yang dijalaninya selama hidup di dunia ini adalah seperti musim bercocok tanam sedangkan hasil panennya akan dia petik di akhirat, maka boleh jadi apa yang ditanamnya selama di dunia ini tidak membuahkan hasil yang baik disebabkan mereka tidak bercocok tanam dengan benar, laksana tanaman yang dimakan hama wereng.

Oleh karena itu tidaklah pantas bagi seorang muslim menyia-nyiakan waktunya dan mempergunakan harta kekayaannya kepada perkara-perkara yang tidak ada faedahnya.

Situasi dan kondisi yang akan menyebabkan penyesalan bagi diri seseorang yang menyia-nyiakan waktu
Seseorang yang tidak mengerti dengan nilai dari waktu akan timbul penyesalan dari dalam dirinya ketika ia berada dalam beberapa keadaan, diantaranya:

1. Ketika manusia menghadapi sakaratul maut

Ketika masa ini telah datang, maka barulah manusia menyadari betapa penting dan tingginya nilai waktu tersebut, karena tidak lama lagi dia akan meninggalkan dunia yang fana ini dan akan menuju kampung akhirat, disaat ini terlintas dalam benak/fikiran manusia alangkah baiknya kalau sekiranya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi tangguh umurnya beberapa saat saja supaya dia bisa beramal sebanyak-banyaknya dan memperbaiki amal perbuatannya sebelum ajal menjemputnya.

2. Ketika telah berada di Akhirat

Semua apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia maka di akhirat Allah akan menetepati janjinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas amal-amal yang dilakukan manusia dan juga pada saat itu Allah ‘Azza wa Jalla akan masukkan orang-orang yang berhak untuk masuk surga ke dalam surganya Allah Ta’ala, dan orang-orang yang berhak untuk masuk ke dalam neraka, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla masukkan ke dalam neraka. Di negeri akhirat ini para penghuni neraka bercita-cita untuk kembali ke dunia supaya mereka bisa melaksanakan ibadah dan amal sholeh. Namun apalah daya nasi telah jadi bubur, hidup di dunia hanya sekali dan apabila sudah meninggalkan dunia mustahil untuk kembali, waktu untuk beramal telah habis.

Penyesalan akan menjadi perkara yang sia-sia ketika kita berada di dalam keadaan di atas, dimana penyesalan tidak hanya milik orang-orang kafir yang tidak mau untuk beriman dan beramal sholeh tetapi juga menjadi milik orang-orang yang beriman dan beramal sholeh yaitu ketika balasan dari amalan perbuatan mereka telah diperlihatkan, mereka berharap alangkah bagusnya kalau seandainya dahulu di dunia mereka mengerjakan amal sholeh lebih giat dan lebih banyak lagi.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/