Pakar Pendidikan Minta Kalangan Pesantren Jangan Asal Demo FDS

Pakar Pendidikan Minta Kalangan Pesantren Jangan Asal Demo FDS

Pakar Pendidikan Minta Kalangan Pesantren Jangan Asal Demo FDS
Pakar Pendidikan Minta Kalangan Pesantren Jangan Asal Demo FDS

Kebijakan Full Day School (FDS) cocok untuk diterapkan di sekolah yang ada di perkotaan. Karena para orang

tua di kota-kota besar seperti di Jakarta, banyak bekerja dari pagi hingga sore atau malam.

“Tujuannya membentuk karakter anak. Jadi lebih baik anak-anak di bawah bimbingan yang bertanggungjawab maka dibuat FDS,” jelas pakar pendirikan Arief Rachman saat dihubungi wartawan, Senin, (14/8).

Menurut Arief sebagaimana dilansir dari rmol (Jawa Pos Group), kebijakan FDS sangat tepat untuk

mengawal masa pertumbuhan anak. Yaitu untuk memastikan adanya pengasuhan yang baik.

“Pendapat saya, bahwa saya berpihak bukan pada FDS, karena dilatarbelakangi pengasuhan anak yang baik dan bertanggungjawab untuk pertumbuhan anak-anak,” kata dia.

Namun, dia mengakui, semua pihak harus paham bahwa program ini tidak bisa dipaksakan untuk semua sekolah di Indonesia.

Pesantren yang memang santri berpisah dengan orang tua tidak perlu lagi FDS. “Kalau santri itu kan orang

tuanya ada di rumah, ya berkebun atau nelayan. Sehingga tidak perlu full day school,” tandasnya.

Karena itu, dia mengingatkan pondok pesantren atau para santri harus paham dengan wacana Full Day School (FDS) sebelum menolak kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut.

“Kenapa mereka menolak? Mereka harus paham. Jangan asal demo-demo saja tidak tahu masalah,” ungkapnya.

Hal ini terkait aksi unjuk rasa para santri yang ramai di media sosial. Dalam aksi penolakan terhadap FDS itu, terlihat para santri berteriak ‘bunuh menteri’.

 

Baca Juga :