Metode Muqarin (komparatif) dalam Syarah Hadits

Metode Muqarin (komparatif) dalam Syarah Hadits

Metode Muqarin (komparatif) dalam Syarah Hadits
Metode Muqarin (komparatif) dalam Syarah Hadits

a. Pengertian

Metode Muqarin adalah metode memahami hadis dengan cara: (1) Membandingkan hadis yang memiliki redaksi yang sama atau mirip dalam kasus yang sama atau memiliki redaksi yang berbeda dalam kasus yang sama. (2) Membandingkan berbagai pendapat ulama syarah dalam mensyarah hadis.
Jadi metode ini dalam memahami hadis tidak hanya membandingkan badis dengan hadis lain, tetapi juga membandingkan pendapat para ulama (pensyarah) dalam mensyarah hadis.
Diantara Kitab yang menggunakan metode muqarin ini adalah Sahih Muslim bi Syarh al-Nawawi karya Imam Nawawi, Umdah al-Qari Syarh S}ahih al-Bukhari karyaBadr al-Din Abu Muhammad Mahmud al-’Aini, dan lain-lain

b. Ciri-ciri Metode Muqarin

1). Membandingkan analitis redaksional (mabahis lafziyyah) dan perbandingan periwayat periwayat, kandungan makna dari masing-masing hadis yang diperbandingkan.
2). Membahas perbandingan berbagai hal yang dibicarakan oleh hadis tersebut.
3). Perbandingan pendapat para pensyarah mencakup ruang lingkup yang sangat luas karena uraiannya membicarakan berbagai aspek, baik menyangkut kandungan (makna) hadis maupun korelasi (munasabah) antara hadis dengan hadis.
Ciri utama metode ini adalah perbandingan, yakni membandingkan hams dengan hadis, dan pendapat ulama syarah dalam mensyarah hadis.

c. Urutan Metode Muqarin

Metode ini diawali dengan menjelaskan pemakaian mufradat (suku kata), urutan kata, kemiripan redaksi. Jika yang akan diperbandingkan adalah kemiripan redaksi misalnya, maka langkah-yang ditempuh sebagai berikut :
1). mengidentifikasi dan menghimpun hadis yang redaksinya bermiripan,
2). memperbandingkan antara hadis yang redaksinya mirip tersebut, yang membicarakan satu kasus yang sama, atau dua kasus yang berbeda dalam satu redaksi yang sama,
3). menganalisa perbedaan yang terkandung di dalam berbagai redaksi yang mirip, baik perbedaan itu mengenai konotasi hadis maupun redaksinya, seperti berbeda dalam menggunakan kata dan susunannya dalam hadis, dan sebagainya,
4). memperbandingkan antara berbagai pendapat para pensyarah tentang hadis yang dijadikan objek bahasan.

d. Contoh

Salah satu kitab yang menggunakan Syarh muqarin adalah Umdah al-Qari Syarh Sahih al-Bukhari karya Badr al-Din Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-’Aini.
قد حصل من الطرق المذكورة أربعة ألفاظ “إنما الأعمال بالنيات” و” الأعمال بالنية” و “العمل بالنية” وادعى النووي في تلخيصه قلتـهاز والرابع “إنـما الأعمال بالنية” وأورده القضاعي في الشهاب بلفظ “الأعمال بالنيات” بحذف “إنما” و الحافظ أبو موسى الأصبـهاني: لا يصح إسنادها,وإقره النووي على ذلك في تلخيصه وغيره,وهو غريب منهما,وهي رواية صحيحة أخرجها ابن حبان في صحيحه…و أورده الرافعي في شرحه الكبير بلفظ آخر غريب وهو “ليس للمرء من عمله إلا نواه”….وفي البيهقي في حديث آخر مرفوعا”لا عمل لـمن لا نية له….لكن اسناده جهالة.
….الأول: احتجت الأئمة الثلاثـة في وجوب النية في الوضوء والغسل فقالوا: التقدير فيه صحة الأعمال بالنيات والألف و اللام فيه لاستغراق الجنس,فيدخل فيه جميع الأعمال من الصوم و الصلاة و الزكاة و الوضوء…ومن الثاني أن النيات إنما تكون مقبولة إذا كانت مقرونـة بالإخلاص انتهي. وذهب أبو حنيفـة و أبو يوسف و محمد و زفر والنواوي والأوزاعي و الحسن بن حي ومالك في رواية إلى أن الوضوء لا يحتاج إلى نية,وكذلك الغسل. و زاد الأوزعي و الحسن التيمم.وقال عطاء ومجاهد: لا يحتاج صيام رمضان إلى نية إلا أنيكون مسافرا أو مريضا…
…الثاني احتجت به أبو حنيفة و مالك وأحمد في أن من أحرم بالحج في غير أشهر الحج أنه لا ينعقد عمرة لأنـه لم ينوها فإنما له مانواه,وهو أحد أقوال الشافعي,إلا أن الأئمة الثلاثة قالوا: ينعقد إحرامه بالحج ولكنـه يكره,ولم يخـتلف قول الشافعي أنـه لا ينعقد بالحج…
…الثالث: احتجت به مالك في اكتفائه بنية واحدة في أول شهر رمضان…

Kelebihan dan Kekurangan

Baca Juga: Sayyidul Akbar

Kelebihan

1). Memberikan wawasan pemahaman yang relatif lebih luas kepada para pembaca bila dibandingkan denga metode lain.
2) Membuka pintu untuk selalu bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang terkadang jauh. berbeda.
3) Pemahaman dengan metode muqarin sangat berguna bagi mereka yang ingin mengetahui berbagai pendapat tentang sebuah hadis.
4) Pensyarah didorong untuk mengkaji berbagai hadis serta pendapat­pendapat para pensyarah lainnya.

Kekurangan

1) Metode ini tidak relevan bagi pembaca tingkat pemula, karena pembahasan yang dikemukakan terlalu luas sehingga sulit untuk menentukan pilihan.
2) Metode ini tidak dapat diandalkan untuk menjawab permasalah sosial yang berkembang di tengah masyarakat, karena pensyarah lebih mengedepankan perbandingan daripada pemecahan masalah
3) Metode ini terkesan lebih banyak menelusuri pemahaman yang pernah diberikan oleh mama daripada mengemukakan pendapat baru.
Untuk dapat memahami hadis dengan tepat, kelengkapan ilmu bantu mutlak diperlukan. Berkaitan dengan ilmu bantu daIam memahami hadis, Yusuf Al Qardawi memberikan beberapa pedoman, yaitu :
1). Mengetahui petunjuk Al Qur’an yang berkenaan dengan hadis tersebut.
2). Menghimpun hadis-hadis yang se-tema.
3). Menggabungkan dan mentarjihkan antar hadis-hadis yang tampak bertentangan.
4). Mempertimbangkan latar belakang, situasi dan kondisi hadis ketika diucapkan diperbuat serta tujuaannya.
5). Mampu membedakan antara sasaran yang berubah-­ubah dengan sasaran yang tetap.
6). Mampu membedakan antara ungkapan yang bermakna sebenarnya dan bersifat metafora.
7). Mampu membedakan antara hadis yang berkenaan dengan alam gaib (kasat mata) dengan yang tembus pandang.
8). Mampu memastikan makna dan konotasi kata-kata dalam hadisa