Metode-metode Pemahaman (syarh) Hadist Modern

Metode-metode Pemahaman (syarh) Hadist Modern

Metode-metode Pemahaman (syarh) Hadist Modern
Metode-metode Pemahaman (syarh) Hadist Modern

Metode Tahlili (Analitis)

a. Pengertian

Tahlili berasal dari bahasa Arab Hallala-Yuhallilu-Tahlil yang berarti menganalisis. Metode syarhtahlili adalah menjelaskan hadis-hadis Nabi dengan memaparkan segala aspek yang terkandung dalam hadis tersebut serta menerangkan makna-makna yang tercangkup di dalamnya sesuai dengan kecenderungan dan keahlian pensyarah.
Dalam menyajikan penjelasan atau komentar, seorang pensyarah hadis mengikutisistematika hadis sesuai dengan urutan hadis yang terdapat dalam sebuah kitab hadis yang dikenal dari al-Kutub al-Sittah.
Pensyarah memulai penjelasannya dari kalimat demi kalimat, hadis demi hadis secara berurutan. uraian tersebut menyangkut berbagai aspek yang dikandung hadis seperti kosa kata, konotasi kalimatnya, latar belakang turunnya hadis (jika ditemukan), kaitannya dengan hadis lain, dan pendapat-pendapat yang beredar di sekitar pemahaman hadis tersebut, baik yang berasal dari sahabat, para tabi’in maupun para ulama hadis.
Dengan substansi yang sama, Muhammad Alfatih Suryadilaga dalam menerangkan metode Tahlili yakni dengan syarakh hadis yang didalamnya akan ditemui uraian pemaparan segala aspek yang terkandung dalam hadis serta menerangkan makna-makna yang tercakup didalamnya sesuai dengan kecenderungan dan keahlian pensyarah, misalkan diuraikannya sistematika sesuai dengan urutan hadis yang terdapat dalam sebuah kitab hadis kutub al-sittah.
Beberapa contoh kitab yang memakai metode “Tahlili” antara lain adalah kitabFath Al-Bari Bi Syarhi Shahih Bukhori karya Ibnu Hajar Al-Asqolani, Ibnatul ahkam Bi Syarhi al-Bulughul Maram karya Subul al-Salam karya Shan’ani, al-Kawakib al-Dirari Fi Syarhi Shahih al-Bukhari karya Syamsuddin Muhammad bin Yusuf bin Ali al-Kirmani, kitab al-Irsyad al-Syari’ li-Syarhi Shahih Bukhari karya Ibnu Abbas Syihab al-Din Ahmad bin Muhammad al-Qastalani atau kitab Syarakh al-Zarqani ala Muwaththa’ ‘ala Imam Malik karya Muhammad bin Abdul Baqi bin Yusuf al-Zarqani.

b. Ciri-ciri Metode Tahlili

Secara umum kitab-kitab syarah yang menggunakan metode tahlili biasanya berbentuk ma’sur (riwayat) atau ra’y (pemikiran rasional). Syarah yang berbentukma’sur ditandai dengan banyaknya dominasi riwayat-riwayat yang datang dari sahabat, tabi’in atau ulama hadis. Sementara syarah yang berbentuk ra’y banyak didominasi oleh pemikiran rasional pensyarahnya.
Kitab-kitab syarah yang menggunakan metode tahlili mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1) Pensyarahan yang dilakukan menggunakan pola menjelaskan makna yang terkandung di dalam hadis secara komprehensif dan menyeluruh.
2) Dalam pensyarahan, hadis dijelaskan kata demi kata, kalimat demi kalimat secara berurutan serta tidak terlewatkan juga menerangkan sabab al wurud dari hadis-hadis yang dipahami jika hadis tersebut memiliki sabab wurudnya.
3) Diuraikan pula pemahaman-pemahaman yang pernah disampaikan oleh para sahabat, tabi’ in dan para ahli syarah hadis lainnya dari berbagai disiplin ilmu.
4) Di samping itu dijelaskan juga munasabah (hubungan) antara satu hadis dengan hadiis lain.
5) Selain itu, kadang kala syarah dengan metode ini diwamai kecenderungan pensyarah pada salah satu mazhab tertentu, sehingga timbul berbagai corak pensyarahan, seperti corak fiqhy dan corak lain yang dikenal dalam bidang pemikiran Islam.

c. Kelebihan dan Kekurangan Metode Tahlili

Kelebihan

1). Ruang lingkup pembahasan yang sangat luas.
Metode analitis dapat menyakup berbagai aspek: kata, frasa, kalimat, sabab al wurud, munasabah (munasabah internal) dan lain sebagainya.
2). Memuat berbagai ide dan gagasan.
Memberikan kesempatan yang sangat longgar kepada pensyarah untukmenuangkan ide-ide, gagasan-gagasan yang pernah dikemukakan oleh para ulama dalam mensyarahkan hadist
Dengan metode ini pensyarah relatif memiliki kebebasan dalam mengemukakan ide-ide dan gagasan-gagasan baru dalam menjabarkan makna suatu teks hadis daripada metode ijmali, barang kali kondisi inilah yang membuat tahlili lebih berkembang pesat dibandingkan dengan ijmali.

Kekurangan

1). Menjadikan petunjuk hadis parsial
Metode analitis menjadikan petunjuk hadis bersifat parsial atau terpecah-pecah, sehingga seolah-olah hadis memberikan pedoman secara tidak utuh dan tidak konsisten karena syarah yang diberikan pada hadis lain yang sama karena kurang memperhatikan hadis lain yang mirip atau sama redaksinya dengannya.
2). Melahirkan syarah yang subyektif
Dalam metode analitis, pensyarah tidak sadar bahwa dia telah mensyarah hadis secara subyektif, dan tidak mustahil pula ada di antara mereka yang mensyarah hadis sesuai dengan kemauan pribadinya tanpa mengindahkan kaidah-kaidah atau norma-norma yang berlaku.[9]
Dari uraian ini dapat disimpulkan, jika menginginkan pemahaman yang “lebih luas” dari suatu teks hadis dengan melihat berbagai aspek, maka tiada jalan lain adalah dengan metode Tahlili. Disinilah letak satu urgensi pokok dan mendasar dari metodetahlili dibandingkan dengan metode ijmali dan muqarin.

Baca Juga: