Mengandung unsur riba

Mengandung unsur riba/rente

Mengandung unsur eksploitasi karena apabila pemegang polis tidak bias melanjutkan pembayaran preminya, maka uang preminya bias hilang atau dikurangi dari uang premi yang telah dibayarkan
Premi-premi yang telah dibayarkan oleh para pemegang polis diputar dalam praktik riba (karena uang tersebut dikreditkan dan dibungakan)
Asuransi termasuk akad sha>rfi, artinya jual beli atau tukar-menukar mata uang tidak dengan uang tunai
Hidup dan matinya seseorang dijadikan objek bisnis, yang berarti mendahului takdir Allah SWT.
Sedangkan pendapat para ulama’ yang membolehkan praktik asuransi adalah: Abdul Wahab Khalaf, Mustafa Ahmad Zarqa, Muhammad Yusuf Musa, dengan alasan-alasannya sebagai berikut:
Tidak ada nash Al-Qur’an maupun nash Hadits yang melarang asuransi
Kedua pihak yang berjanji (asurador dan yang mempertanggungkan) dengan penuh kerelaan menerima praktik ini dilakukan dengan memikul tanggung jawab masing-masing
Asuransi tidak merugikan salah satu atau kedua belah pihak dan bahkan asuransi menguntungkan kedua belah pihak
Asuransi mengandung kepentingan umum, sebab premi-premi yang terkumpul dapat diinvestasikan (disalurkan kembali untuk dijadikan modal) untuk proyek-proyek yang produktif dan untuk pembangunan
Asuransi termasuk akad mudharabah, maksudnya asuransi merupakan akad kerja sama bagi hasil antara pemegang polis (pemilik modal) dengan pihak perusahaan asuransi yang mengatur modal atas dasar bagi hasil (profit and loss sharing)
Asuransi termasuk syirkah ta‘awuniyah
Dianalogikan atau diqiaskan dengan system pension, seperti taspen
Operasi asuransi dilakukan untuk kemaslahatan umum dan kepentingan bersama
Asuransi menjaga banyak manusia dari kecelakaan harta benda, kekayaan, dan kepribadian.
Dengan alasan-alasan yang demikian, asuransi dianggap membawa manfaat bagi pesertanya dan perusahaan asuransi secara bersamaan. Praktik atau tindakan yang dapat mendatangkan kemaslahatan orang banyak dibenarkan oleh agama.

Rukun dan Syarat Asuransi dalam Islam

Suatu akad yang paling mirip dengan kegiatan asuransi adalah akad mudaharabah. Di mana asuransi menyerupai akad mu’amalah yang ada dalam hukum Islam yang sudah jelas wujud formal dan wujud materialnya, sehingga untuk menjelaskan rukun dan syarat asuransi syari’ah, kita bias menyamakannya dengan rukun dan syarat yang ada pada akad mudaharabah.
Adapun rukun dan syarat yang di maksud di atas adalah sebagai berikut:
Adanya modal (ma>l)
Modal harus diserahkan langsung kepada mudahrib sehingga mudharib berhak mengelola modal tersebut sesuai dengan kesepakatan.
Modal harus diketahui jumlahnya dengan pasti dan tidak boleh dikira-kira, karena digunakan untuk menentukan presentase keuntungan yang akan diperoleh kedua belah pihak dari suatu usaha mudharabah.
Modal harus berupa uang seperti uang dari emas, perak, kertas, dan surat berharga.
Adanya s}hahibul ma>l (pemilik modal) dan muza>rib (pengelola)
Adapun syarat s}hahibul ma>l dan muza>rib adalah:
Baligh
berakal
Adanya saling rela
Dalam hal pekerjaan atau usaha
Dalam hal keuntungan dan s}ighat (ijab qabul)
sumber :