Memaknai konsep Peradilan dan Pengadilan

Memaknai konsep Peradilan dan Pengadilan

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, peradilan adalah segala sesuatu mengenai pengadilan. Sedangkan pengadilan memiliki arti banyak yaitu dewan atau majelis yang mengadili perkara; mahkamah; proses mengadili; keputusan hakim ketika mengadili perkara; rumah (bangunan) tempat mengadili perkara. Adapula yang menyatakan bahwa, umumnya kamus tidak membedakan antara peradilan dan pengadilan.[3] Menurut penulis, sebaiknya makna peradilan dan pengadilan dibedakan, karena kedua kata itu meskipun berasal dari akar kata yang sama tapi mempunyai perbedaan dalam pengertian dan fungsinya.

Peradilan dalam perkembangan khazanah hukum Islam (fiqh) menggunakan istilah al-qadā untuk peradilan dan mahkamah al-qadā’ bagi pengadilan sedangkan qādi adalah hakim. Al-qadā secara etimologis mengandung arti musytarāk (banyak arti bukan tunggal). Muhammad Salam Madkur memberi tiga arti kata al-qadā; yaitu, pertama al-Farāg berarti putus atau selesai. Kedua al-Adā’a berarti menunaikan atau membayarkan dan Ketiga, al-bukmu, berarti mencegah atau menghalang-halangi. Menurut ulama Fuqaha sebagaimana yang dikemukakan oleh Muhammad Salam Madkur, bahwa istilah peradilan atau al-Qadhā adalah al-Ikhbār ‘an hukm syar’ī ‘ala sabīl al-Izām, artinya menyampaikan hukum syar’i dengan jalan penetapan.[4]

Kata “peradilan” sebagai terjemahan dari “qadā” yang berarti memutuskan, melaksanakan dan menyelesaikan”.[5] Selanjutnya dikemukakan oleh T.M. Hasbi Ash Shiddeqy, bahwa yang dimaksud dengan al-Qadā adalah “kekuasaan mengadili perkara”[6]

Dalam Ensiklopedi Indonesia jilid 5, pengadilan adalah “badan atau organisasi yang diadakan oleh negara untuk mengurus dan mengadili perselisihan-perselisihan hukum. Semua putusan pengadilan diambil atas nama Republik Indonesia” atau “atas nama keadilan”. Sedangkan peradilan tidak ditemukan rumusannya. Begitu pula dalam kamus hukum hanya ditemukan kata pengadilan, yakni dewan atau badan yang berkewajiban untuk mengadili perkara-perkara dengan memeriksa dan memberikan keputusan mengenai persengketaan hukum, pelanggaran hukum atau Undang-undang dan sebagainya.[7]

Dalam ilmu hukum, peradilan dijelaskan oleh para sarjana hukum Indonesia sebagai terjemahan dari rechspraak dalam bahasa Belanda. Menurut Mahadi, peradilan adalah suatu proses yang berakhir dengan memberi keadilan dalam suatu putusan. Proses ini diatur dalam suatu peraturan hukum acara. Sedangkan pengadilan menunjuk kepada suatu susunan instansi yang memutus perkara. Dalam menjalankan tugasnya pengadilan menjalankan peradilan.[8]

Dalam disertasi Abdul Gani Abdullah, dikemukakan pandangan Leimare, Van Kan dan Soedikno yang kemudian disimpulkan, bahwa peradilan adalah “kewenangan suatu lembaga untuk menyelesaikan suatu perkara untuk dan atas nama hukum demi tegaknya hukum dan keadilan”. Kesimpulan itu dihubungkan dengan ketentuan pasal 1 UU Nomor 14 Tahun 1970 dan dirumuskan berdasarkan unsur-unsur peradilan. Menurut Zaini Ahmad Noeh, kata peradilan bermakna “daya upaya mencari keadilan atau penyelesaian perselisihan hukum yang dilakukan menurut peraturan-peraturan dan lembaga-lembaga tertentu dalam pengadilan. Sedangkan pengadilan berarti “tempat dimana dilakukan peradilan yakni majelis hukum atau mahkamah.

Sumber :

https://airborn.co.id/survei-penjualan-iphone-melonjak-40-persen-di-china/

[9]