LATAR BELAKANG PERJANJIAN GIYANTI

LATAR BELAKANG PERJANJIAN GIYANTI

LATAR BELAKANG PERJANJIAN GIYANTI

Perjanjian Giyanti adalah

salah satu bentuk dari kesepakatan pihak VOC Belanda dengan pihak Kerajaan Mataram yang diwakili oleh Sunan Pakubuwana III, serta kelompok dari Pangeran Mangkubumi.

Sebelum pada akhirnya terjadi perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said terus melakukan perlawanan terhadap VOC dan PB III selama beberapa tahun. Hal ini pun membuat ribuan prajurit Belanda tewas akibat ulah pasukan yang hebat dari Yogyakarta.

VOC pun pada akhirnya kemudian mencari cara agar kekuatan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said dapat menjadi musuh, ya, dengan jalan devide et impera atau politik pecah-belah.

VOC yang memiliki banyak akal pun pada akhirnya menyusupkan seorang kerabat keraton bernama Tumenggung Sujanapura ke dalam kubu lawan. Hal ini membuat Sujanapura berkata kepada Raden Mas Said bahwa sebenarnya Pangeran Mangkubumi tidak suka kepadanya dan ia khawatir dikhianati.

Adanya hasutan-hasutan yang membuat terpecah ini membuat Raden Mas Said bimbang dan akhirnya memisahkan diri dari pasukan Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi pun dalam kasus ini membuat pilihan untuk menyebrang dari kelompok pemberontak.

Ia pun akhirnya bergabung dengan pemegang kekuasaan dalam melawan pemberontakan yang dilakukan Pangeran Sambernyawa. Hal ini ia lakukan demi adanya kepentingan pribadi.

Pada awalnya, mulai dari tanggal 10 September 1754, seorang utusan dari VOC yang bernama Hartingh bertolak dari Semarang untuk menemui Pangeran Mangkubumi. Ia pergi ke sana untuk mengadakan sebuah perundingan.

Perundingan yang terjadi itu pun dilakukan secara tertutup. Perundingan ini hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Beberapa di antaranya yaitu Pangeran Mangkubumi beserta Pangeran Notokusumo dan juga Tumenggung Ronggo.

Orang-orang yang hadir dari pihak VOC sendiri ada sosok Hartingh ditemani dengan pendampingnya yakni ada Breton, Kapten Donkel, serta sekretaris Fockens, sebagai juru bahasa Pendeta Bastani.

Perundingan yang akhirnya dilaksanakan tersebut membahas mengenai pembagian wilayah dari Mataram. Hartingh pun pada akhirnya memberikan penawaran Mataram sebelah timur, namun usulan Hartingh ditolak oleh pangeran Mangkubumi.

Isi dari perjanjian Giyanti itu pun adalah Pangeran Mangkubumi memperoleh separuh wilayah kekuasaan PB III dan diakui sebagai penguasa Yogyakarta dengan gelar Hamengkubuwana I. Sejak saat inilah, Kasultanan Yogyakarta resmi didirikan.

Usut punya usut, VOC pun akhirnya mengusulkan agar Mangkubumi jangan memakai gelar sunan dan menentukan daerah mana saja yang ingin ia kuasai. Diceritakan pada tanggal 23 September 1754, Pangeran Mangkubumi pun akhirnya menggunakan gelar Sultan dan juga mendapatkan setengah kerajaan.

Sedangkan untuk Pantai Utara Jawa, akhirnya menjadi salah satu kawasan milik VOC. Hal ini pun disusul pada 4 November 1754 jarak sebulan kurang dari perundingan yang dilakukan, Paku Buwono III memberikan surat kepada Gubernur Jenderal VOC untuk adanya persetujuan Gubernur Jawa Utara dan juga Mangkubumi.

Perundingan yang terjadi inilah yang membuat akhirnya tercetus Perjanjian Giyanti yang saat ini sudah kalian dengar isinya dalam pelajaran Sejarah.

Dengan adanya Perjanjian Giyanti tersebut, Raden Mas Said kini berjuang sendiri. Ia pun dikeroyok tiga kekuatan besar yang ada, yakni VOC Belanda, PB III di Surakarta, serta mantan sekutu, paman, sekaligus mertuanya sendiri, Hamengkubuwono I yang ada di Yogyakarta.

Karena Raden Mas Said dalam hal ini memang sangat menentang Perjanjian Giyanti yang dianggapnya telah memecah-belah kepemimpinan di Jawa. Ia pun pantang menyerah dan terus-menerus melakukan perlawanan. Segala perjuangan yang mengerikan ini membuat Nicolaas Hartingh, Gubernur VOC menjulukinya sebagai Pangeran Sambernyawa.


Sumber: https://mansionpromo.co.id/feist-apk/