Latar Belakang Munculnya Pergerakan Nasional Indonesia

Latar Belakang Munculnya Pergerakan Nasional Indonesia

Latar Belakang Munculnya Pergerakan Nasional Indonesia

Pada umumnya lahir, tumbuh, dan berkembangnya keragaman ideologi pergerakan nasional di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari keadaan dunia internasional (eksternal) serta kondisi yang terjadi di dalam negeri (internal).

  1. Faktor Eksternal

Pertama, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, di seluruh negara-negara jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin merupakan fase timbulnya kesadaran  tentang pentingnya semangat nasional, perasaan senasib sebagai bangsa terjajah, serta keinginan untuk mendirikan negara berdaulat lepas dari cengkeraman imperialisme.

Kedua, Perang Dunia I yang berlangsung 1914-1918 telah menyadarkan bangsa-bangsa terjajah bahwa negara-negara imperialis telah berperang diantara mereka sendiri. Tokoh-tokoh pergerakan nasional di Asia, Afrika, dan Amerika Latin telah menyadari bahwa kini saatnya telah tiba bagi mereka untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah yang sudah lelah berperang.

Ketiga, konflik ideologi dunia antara kapitalisme atau imperialisme dan sosialisme atau komunisme telah memberikan dorongan bagi bangsa-bangsa terjajah untuk melawan kapitalisme atau imperialisme Barat.

Keempat, lahirnya nasionalisme di Asia dan di negara-negara jajahan lainnya di seluruh dunia telah mengilhami tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Misalnya kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905, model pergerakan nasional yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi di India, Mustapha Kemal Pasha di Turki, serta Dr. Sun Yat Sen di Cina telah memberikan inspirasi bagi kalangan terpelajar nasionalis Indonesia bahwa imperialisme Belanda dapat dilawan melalui organisasi modern.

  1. Faktor Internal

Faktor internal yang mempengaruhi berkembangnya keragaman ideologi pergerakan nasional di Indonesia, yaitu sebagai berikut.

Pertama, sistem penjajahan Belanda yang eksploitatif terhadap sumber daya alam dan manusia Indonesia serta sewenang-wenang terhadap warga pribumi telah menyadarkan penduduk Indonesia tentang adanya sistem kolonialisme dan imperialisme Barat yang menerapkan ketidaksamaan dan perlakuan yang membeda-bedakan (diskriminatif).

Kedua, kenangan akan kejayaan masa lalu. Rakyat Indonesia pada umumnya menyadari bahwa mereka pernah memiliki negara kekuasaan yang jaya dan berdaulat di masa lalu (antara lain Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit).

Ketiga, lahirnya kelompok terpelajar Indonesia yang memperoleh pendidikan Barat dan Islam dari luar negeri. Kesempatan ini terbuka setelah pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 menjalankan Politik Etis (Edukasi, Transmigrasi, dan Irigasi). Orang-orang Indonesia yang memperoleh pendidikan Barat berasal dari kalangan priyayi abangan yang memiliki status bangsawan. Sebagian lainnya berasal dari kalangan priyayi dan santri yang secara sosial ekonomi memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah haji serta memperoleh pendidikan tertentu di luar negeri.

Keempat, semangat persamaan derajat tersebut berkembang menjadi gerakan  politik yang sifatnya nasional. Tindakan pemerintah kolonial yang semakin represif seperti penangkapan tokoh-tokoh nasionalis telah menimbulkan gerakan nasional untuk memperoleh kebebasan berbicara, berpolitik, serta menentukan nasib sendiri tanpa dicampuri pemerintah kolonial Belanda.


Sumber:

https://works.bepress.com/m-lukito/8/