HUBUNGAN INTELEK DENGAN TINGKAH LAKU

HUBUNGAN INTELEK DENGAN TINGKAH LAKUHUBUNGAN INTELEK DENGAN TINGKAH LAKU

                Inteligensi menurut Piaget merupakan peryataan dari tingkah laku adaptif yang terarah kepada kontak dengan lingkungan dan kepada penyusunan pemikiran (Bybee dan Sund,1982). Piaget memposisikan subjek sebagai pihak yang aktif dalam interaksi adaptif antara organisme atau terjadi hubungan dialektis antara organisme dan lingkungannya. Apa yang dikatakan oleh Piaget ini kenyataannya memang benar, sebab organisme tidak pernah terpisah dari lingkungannya dan juga tidak semacam penerima yang pasif. Intelektual antara organisme dengan lingkungannya lebih bersaifat interaksi timbal balik. Hanya dalam bentuk interaksinya juga, setiap perubahan tingkah laku adalah merupakan hasil dialektis pengaruh timbal balik antara organisme dengan lingkungannya. Karena pandangannya yang demikian itu,teori Piaget tentang intelegasi atau kognitif disebut juga dengan teori interaksionisme.

                Piaget memiliki pandangan bahwa setiap organisme memilki kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Yang dapat diketahui berkat 2 proses yang saling mengisi yaitu asimilasi dan akomodasi. Karena kemampuan mengakomodasi struktur kognitifnya sehingga objek yang baru itu dapat ditangkap dan dipahami secara  memadai. Asimilasi addalah suatu proses individu memasukkan dan menggabungkan pengalaman-pengalaman dengan struktur sikologis pada diri individu dengan istilah  skema yang berarti kerangka mental individu yang digunakan untuk menafsirkan segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya. Skema mampu menyusun pengamatan-pengamatan dan tingkah laku sehingga terjadilah suatu rangkaian tindakan fisik dan mental untuk memahami lingkungannya. Oleh sebab itu, skema harus diubah, diperluas, dan disesuaikan dengan fakta-fakta yang memadai. Proses  penyesuain skema dengan fakta-fakta melalui pengalaman-pengalaman baru dikenal dengan istilah akomodasi. Dengan demikian proses akomodasi dengan asimilasi merupakan 2 proses berlawanan. Jika dalam asimilasi proses yang terjadi adalah menyesuaikan pengalaman-pengalaman baru yang diperolehnya dengan struktur skema yang ada diri individu, sedangkan akomodasi merupakan proses penyesuaian skema dalam diri individu dengan fakta-fakta baru yang diperoleh melalui pengalaman dari lingkungannya.

  1. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN INTELEK/KOGNITIF

                Intelegensi pada  masa remaja tidak mudah di ukur ,karena tidak mudah terlihat kecepatan perkembangan kemampuan tersebut.pada umumnya umur 3 – 4 tahun pertama menunjukkan perkembangan  kemampuan yang hebat ,selanjutnya akan terjadi perkembangan teratur.Pada masa remaja kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk bertambah.pada masa awal remaja ,kira-kira pada umur 12 tahun ,anak berada pada masa yang di sebut masa operasional formal (berfikir abstrak ) . Berfikir operasional formal mempunyai dua sifat yang penting ,yaitu :

  1. Sifat deduktif – hipotesis

        Dalam menyelesaikan suatu masalah ,seorang remaja akan mengawalinya dengan pemikiran teoritik . ia menganalisis masalah dam nengajukan cara-cara penyelesaian hipotesis yang mungkin.pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berfikir induktif di samping deduktif ,oleh sebab itu sifat berfikir ini sebenarnya mencakup deduktif- induktif – hipotesis .Atas dasar analisnya ,ia membuat suatu strategi penyelesain .Analisis teoretis dapat di lakukan secara verbal.anak lalu mengajukan pendapat – pendapat atau  prediksi tertentu ,yang disebut juga proposisi-proposisi,kemudian mencari hubangan antara proposisi yang berbeda-beda tadi . Berhubungan dengan itu maka berfikir operasional juga di sebut proposional.

  1. Berfikir operasional juga berfikir kombinatoris

        Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara bagaimana melakukan analisis.misalnya,anak diberi lima buah gelas berisi cairan tertentu.suatu kombinasicairan ini membuat cairan tadi berubah warna.anak ini di minta untuk mencari kombinasi ini.

Jadi, dengan berfikir operasional formal memungkinkan orang untuk mempunyai tingkah laku problem solvin yang betul-betul ilmiah serta memungkinkan untuk mengadakan pengujian hipotesis dengan variable-variabel tergantung yang mungkin ada .Berfikir abstrak atau formal operation ini merupakan cara berfikir yang bertalian dengan hal-hal yang tidak dilihat dan kejadian-kejadian yang tidak langsung di hayati.

        Cara berfikir terlepas dari tempat dan waktu ,dengan cara hipotesis ,deduktif yang sistematis ,tidak selalu dicapai oleh semua remaja.tercapai atau tidak tercapainya cara berfikir ini tergantung pada tingkat intelegensi dan kebudayaan sekitarnya.seorang remaja yang dengan kemampuan intelegensi terletak dibawah normal atau nilai IQ kurang dari 90, tidak akan mencapai taraf berffikir yang abstrak.

Sumber :

https://icbbumiputera.co.id/cara-menghapus-postingan-lama/