Ekosistensi Etis Adalah

Ekosistensi Etis Adalah

Ekosistensi Etis Adalah
Ekosistensi Etis Adalah

Eksistensi

Kata eksistensi dapat digunakan dalam arti umum untuk menandakan “apa yang ada”, umpamanya dikatakan: eksistensi Negara Indonesia. Akan tetapi dalam kalangan sarjana-sarjana filsafat kata eksistensi sudah lazim digunakan untuk menandakan keberadaan manusia saja, yakni cara manusia berada di dunia sebagai subjek yang konkret. Deangan menggunakan kata eksistensi maksudnya mengungkapkan bahwa manusia yang konkret (Dasein) “eksistit”, yakni berada pada dirinya sendiri dalam batin (sistit), akan tetapi juga keluar dari dirinya sendiri, yakni ke dunia.

 

Bahwa manusia berada pada dirinya sendiri

dirasakan orang tipa-tiap saat. Apa saja yang dilakukan manusia, berpusat pada kesadaran manusia tentang dirinya, sehingga seluruh hidupnya dialami sebagai bagian dirinya disebut dimensi immanensia. Bahwa manusia keluar dari dirinya nyata juga, manusia tidak hidup dalam batin saja, tetapi apa yang dirasakannya dalam batin itu adalah apa yang ada di luar dirinya, yakni dalam dunia. Dengan demikian manusia mempunyai dimensi yang melampaui dirinya; iinilah dimensi transendensi.
Manusia sanggar subjek yang berimmanensi dan bertransendensi bersifat dinamis. Sifat dinamis ditandai dua hal: https://www.dosenpendidikan.com/contoh-teks-laporan-hasil-observasi/
1. Manusia berkembang dengan menuju ke arah masa depan.
2. Manusia berkembang melalui tindakannya sendiri.
Dari 2 hal di atas maka muncullah ide kunci pengertian manusia, yakni kebebasan.

 

Kebebasan Eksistensial

Intisari kebebasan. Manusia memang tidak bebas untuk masuk dunia atau tidak. Akan tetapi sesudah ditempatkan di dunia ini ia tinggal sebagai mahluk bebas. Kebebasan itu menyangkut masa depan, bukan masa lampau. Masa pada tiap-tiap tindakan arti dirinya dan dunia sudah ada. Atas dasar arti-arti tersebut manusia menetukan arti-arti selanjutnya.

Dasar kebebasan yang ada pada manusia terletak dalam hal ini, bahwa ia mempunyai suatu pandangan yang luas atas beberapa kemungkinan yang ada pada dirinya maupun pada lapangan tindakannya. Pandangan macam ini yang menimbulkan alternatif bertindak, disebut pandangan universal. Lalu menyusul apa yang bersifat hakiki bagi kebebasan manusia, yakni bahwa tindakannya/ pilihannya berasal dari dirinya sendiri. Memang jelas bahwa saya tidak bebas bila saya bertindak, akan tetapi tindakan saya itu tidak berasal dari inisiatif saya sendiri. Inisiatif/pilihan sendiri merupakan unsur yang bersifat menetukan bagi kebebasan suatu tindakan.

Dapat disimpulkan, bahwa kebebasan itu bukan keterbatasannya, melainkan paksaan dari pihak orang lain, entah itu paksaan fisik, yang diadakan melalui kekerasan, entah itu paksaan moril, yakni dengan ancaman, bujukna, tipuan. Pada zaman kini dalam memaksa secara fisik sudah digunakan metode-metode yang merusak psike orang secara batin juga, umpamanya pembersihan otak, obat bius dan sebagainya. Karena adanya paksaan kebebasan berkurang atau hilang.

Kebebasan berupa inisiatif atau pilihan (bebas bertindak, bebas mamilih) disebut kebebasan “dari” yakni dari halangan dan paksaan. Makna kebebasan. Bila dikata bahwa intisari kebebasan ialah bahwa manusia bisa bertindak menurut inisiatif sendiri dan pilihan sendiri, atas dasar pandangannya yang universal, maka dengan ini makna kebebasan belum diungkapkan. Maklumlah tiap-tiap tindakan terdiri atas tiga unsur, yakni:
1. Bertindak atau tindakan.
2. Asal tindakan yakni aku,
3. Tujuan tindakan.

 

Makna kebebasan baru tampak bila kebebasan

Dilihat dalam hubungan dengan tujuan yang hendak dicapai. Bila manusia mampu mengarahkan dirinya ke arah suatu tujuan yang bernilai baginya, ia sungguh-sungguh bebas.
Kebebasan eksestensial ini dikembangkan melalui suatu kehidupan yang berdisiplin, yakni dengan menentukan batas bagi kelakuannya sendiri sehingga kebebasan eksestensial ini yang disukai orang, diisi tiap-tiap orang secara berbeda-beda.
Kebebasan eksestensial ini selayaknya disebut “kebebasan untuk” juga, sebab disini kebebasan dipandang dari segi tujuan. Tetapi sudah jelas bahwa istilah “kebebasan dari” dan “kebebasan untuk” tidak hanya menunjuk dua segi kebebasan, tetapi juga menandakan dua tahap kebebasan, malahan dua tingkat.