Efek Kebijakan Mendikbud, Murid SD Belajar Lesehan

Efek Kebijakan Mendikbud, Murid SD Belajar Lesehan

Efek Kebijakan Mendikbud, Murid SD Belajar Lesehan
Efek Kebijakan Mendikbud, Murid SD Belajar Lesehan

Pasca Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) beberapa waktu lalu, kini sejumlah sekolah mengalami kelebihan siswa.

Akibatnya siswa itu terpaksa ditampung dalam rombongan belajar (rombel) tambahan. Namun mereka tidak

belajar di ruang kelas, melainkan di musala sekolah secara lesehan.

Kondisi itu terjadi SDN 006 Batamkota. Siswa yang belajar lesehan itu diminta untuk membawa alat belajar sendiri dari rumah, seperti meja lipat.

Kepala SDN 006 Batamkota Dahlius mengatakan, langkah ini diambil karena jumlah siswa di masing-masing kelas mencapai 50 orang. Jumlah itu tidak bagus untuk iklim belajar anak.

Sehingga dari Senin (14/8), empat orang masing-masing kelas 1 diambil untuk digabung dalam rombel baru.

Mereka menempati kelas di ruang musala.

“Kami ambil empat orang perkelas, dari kelas A sampai D. Jadinya kan 16 orang, kita bentuk rombel baru, kelas 1E dan belajarnya di musala,” kata Dahlius, seperti dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group).

Ketua Panitia PPDB SDN 006 Batamkota, Noeraida menambahkan, akar permasalahan melimpahnya jumlah siswa di sekolah tersebut sejak PPDB beberapa waktu lalu.

Sekolahnya yang hanya memiliki daya tampung siswa baru 108 siswa untuk tiga rombongan belajar (per

kelas 36 siswa). Pada akhirnya harus menerima hingga 200 orang karena desakan masyarakat. Desakan masyarakat itu efek dari sistem zonasi dari PPDB. Sekolah wajib menampung siswa di sekitar.

“Awalnya 108 dulu untuk tiga kelas, perkelaskan 36 orang. Lalu tambah lagi satu kelas, jadi 40 siswa perkelas. Akhirnya, jadi 50 perkelas, jadinya 200 semuanya,” Noeraida.

 

Sumber :

https://www.givology.org/~danuaji/blog/694053/