Dimas Jafar Sidiq, Pendongeng dari SMAN 1 Lembang

Dimas Jafar Sidiq, Pendongeng dari SMAN 1 Lembang

Dimas Jafar Sidiq, Pendongeng dari SMAN 1 Lembang
Dimas Jafar Sidiq, Pendongeng dari SMAN 1 Lembang

Dimas Jafar Sidiq merupakan salah satu siswa berprestasi dari SMAN 1 Lembang. Ia telah memenangkan Lomba Pasanggiri Apresiasi Basa sareng Kasenian Daerah 2018 tingkat Provinsi Jawa Barat. Saat ditemui, ia merupakan sosok yang santun dan ramah. Saat berbincang, siswa kelahiran Bandung, 18 Mei 2001 ini, terdengar dialek Sunda yang kental di setiap kata yang ia ucapkan. Terkadang ia pun mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Sunda lemes, menandakan kesehariannya yang sering menggunakan kedua bahasa tersebut.

“Selain sudah punya dasar Basa Sunda yang baik, Teteh saya lulusan Basa Sunda. Jadi di rumah sering berdialog nganggo Bahasa sunda. Lalu, dari kecil sama kakek suka berdialog Bahasa Sunda,” ujar Dimas saat ditemui di SMAN 1 Lembang, Jalan Kayuambon, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 1 November 2018.

Putra dari Bapak Aceng Suherman dan Ibu Siti Hadijah ini, menceritakan bagaimana ia dapat fasih dalam Bahasa Sunda karena sejak dulu ia sering menonton pertunjukan wayang golek. Dengan kemampuan tersebut, Dimas pertama kali mengikuti perlombaan mendongeng sunda saat SMP. Tetapi, sayangnya kemenangan belum berpihak padanya.

Saat Dimas beranjak SMA, ia memberanikan diri kembali untuk mengikuti seleksi mendongeng sunda pada acara kegiatan bulan bahasa. Walaupun ia sempat trauma karena kalah saat SMP, tapi akhirnya ia memberanikan diri dengan didorong oleh teman-temannya. Pada awalnya ia tidak tahu cara mendongeng dengan benar. Saat mengikuti bulan bahasa tersebut, ia terus berlatih dan akhirnya mendapat juara satu.

Sebelum mengikuti Ajang Pasanggiri Tingkat Jawa Barat, Dimas mengikuti lomba Riksa Budaya Sunda (RBS) yang diadakan oleh Prodi Bahasa Sunda, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). RBS tersebut merupakan kegiatan apresiasi Bahasa Sunda dan mengadakan kompetisi bagi siswa SMA/SMK se-Jawa Barat.

“Untuk mempersiapkan lomba tersebut, saya dilatih bersama Ibu Ai dan A Rangga. Selama ini ternyata kemampuan mendongeng Dimas masih kurang. Banyak kecap-kecap kamalayon atau kalimat yang rancu, tidak enak di dengar. Lalu Ibu Ai memperbaiki diksi-diksi untuk ngedongeng, kalimat pengantar yang bagus dalam Bahasa Sunda harus ngaguluyur. Selain itu, dilatih juga sama A Rangga bagaimana teknis-teknisnya, seperti mengubah suara seperti dalang,” ujar Dimas.

Ibu Ai dan A Rangga merupakan guru sekaligus pelatih dongeng Dimas di SMAN 1 Lembang. Dengan dukungan dari mereka, akhirnya Dimas mendapatkan Juara 1 mengalahkan siswa lainnya se-Jawa Barat. Kini ia telah menguasai tiga suara untuk mendongeng yaitu, suara ksatria, suara wanita, dan suara kakek-kakek.

Memasuki kelas XII, awalnya Dimas akan menghentikan dahulu kegiatan mendongengya untuk sementara. Hal tersebut dikarenakan ia ingin fokus untuk mempersiapkan Ujian Nasional (UN). Tetapi, saat ada pengumuman mengenai Lomba Pasanggiri Apresiasi Basa sareng Kasenian Daerah 2018 tingkat Provinsi Jawa Barat, Kepala Sekolah saat itu mendukung Dimas untuk kembali lagi ikut lomba. Ia dipercaya karena telah memenangkan juara 1 dalam lomba RBS tahun lalu.

Dimas kembali bertekad untuk mengikuti lomba mendongeng tersebut dengan bimbingan Ibu Ai. Saat berlatih, ternyata saat dilatih judul dongeng yang diperlombakan sama dengan lomba sebelumnya yaitu “Tangkuban Parahu.” Walaupun sama, Ibu Ai terus mengeksplorasi dongeng tersebut dengan menambahkan lagu agar lebih enak didengar.

Selain itu, selama latihan Dimas dibantu juga bersama teman-teman yang mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Ia dibantu oleh temannya yang mengikuti kategori monolog dan baca puisi. Walau tidak diajarkan secara teknis, teman-temannya ini mendukung dia secara secara batiniah. Mereka mengajarkan bagaimana memiliki mental yang bagus, serta menjelaskan semua pengalamannya. Hal tersebut menjadikan motivasi yang kuat dan menjadi bekal untuk Dimas saat lomba.

“Sebelum masuk ke tingkat provinsi, Lomba Pasanggiri ini diseleksi di tingkat Kabupaten Bandung Barat. Alhamdulillah, juara 1 sebagai perwakilan. Setelah itu dikarantina, dan sebelum besoknya ikut lomba tingkat nasional, sempat latihan di malam hari dalam kondisi tidak fit karena merasakan gundah. Jadi blank enggak hapal naskah,” ujar Dimas

Dengan keadaan yang diceritakan Dimas, ternyata ia mengaku sempat down menghadapi perlombaan ini. Dilihat dari penampilan peserta lain ternyata banyak yang bagus. Ada yang mahir dalam skill dalang. Tetapi ia terus berlatih dan meyakinkan diri karena diksi, pengembangan karakter, efektifitas bahasa, kata pengantar, menjadi penilaian juri juga dalam lomba mendongeng.

Saat memasuki ruangan lomba, Dimas menyadari bahwa juri yang akan menilai di Lomba Pasanggiri ini, sama seperti juri RBS tahun lalu. Ia pun sempat berdebar-debar dan tidak percaya diri karena merasa sumbang saat membawakan lagu untuk pengantar dongeng. Ibu Ai sebagai pembimbing terus memberikan motivasi kepada Dimas agar rasa percaya dirinya kembali tumbuh. “Sing yakin, sing pede, pake rasa, da ini mah bukan lomba nyanyi,” ujar Ibu Ai memotivasi Dimas sebelum berkompetisi.

Sesaat setelah itu, MC memanggil nama Dimas dengan nomor urut 4. Tidak disangka-sangka ternyata

melihat Dimas mendongeng respon penonon sangat terpukau. Awalnya ruangan terdengar ribut dengan suara penonton, lalu tiba-tiba menjadi hening saat Dimas mulai mendongeng.

“Sudah sampai akhir dongeng, sempat salah pemilihan kalimat, menjadikan para penonton tertawa. Tetapi mendapat respon juri kirain akan biasa saja, ternyata langsung memberi tepuk tangan. Dari situ saya merasa tenang, yang lain lawan kuat, tetapi saya merasa puas karena telah memberikan usaha yang maksimal selama ini,” ujar Dimas.

Pada Kamis malam Jumat, Dimas nunggu pengumuman bersama peserta kategori lain perwakilan dari Kabupaten Bandung Barat. Mereka menyempatkan membaca surat Al Kahfi bersama-sama manfaatkan waktunya dengan berdoa. “Walaupun banyak yang bagus, jika sudah rezekinya di laufulmahfudz maka kita tidak bisa mengubahnya, kunfayakunjadi maka jadilah,” ujar Dimas.

Pemenang akan diumumkan hari ini, Dimas sudah merasa percaya diri. Pembimbingnya, A Rangga

mengatakan mereka harus siap menang dan siap kalah. Tetapi Dimas masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “asa piraku ari RBS menang sa-Jawa Barat, ari ieu eleh mah,” pikir Dimas dalam hati. Tetapi terkadang ia pun merasa banyak peserta yang bagus dan memukau.

Saat waktunya pengumuman Lomba Pasanggiri Apresiasi Basa sareng Kasenian Daerah 2018 tingkat Provinsi Jawa Barat, kategori Mendongeng Putra, terpanggil nomor urut 4 dengan nama Dimas Jafar Sidiq memenangkan juara pertama. Dimas pun merasa sangat bersyukur, ternyata selama ini telah dispensasi di sekolah, akhirnya mendapatkan hasil yang tidak sia-sia.

Dimas memiliki dua cita-cita yang ia sebut proker. Pertama proker dunianya adalah ahli desain komunikasi

visual dan menjadi guru Pendidikan Agama Islam (PAI), atau Bahasa Arab, ataupun sesuai dengan kegemarannya yaitu Guru Bahasa Sunda. Kedua, selain memiliki proker dunia, ia pun memiliki proker akhirat yaitu Mujahid Fii Sabilillah dan menjadi Hafidz Qur’an.

“Pengalaman yang paling berharga, bukan dari hasil juaranya tetapi prosesnya. Karena dari proses kita akan mengetahui masalah-maslah apalagi yang harus kita hadapi. Kita punya sejarah dan pengalaman, sehingga kita tahu dari pelajaran dari sebelumnya. Kita punya resolusi yang baru untuk masalah-masalah yang baru,” ujar Dimas mengakhiri.***

 

Baca Juga :