Beberapa Ketentuan dalam Periwayatan Hadits Secara Makna

Beberapa Ketentuan dalam Periwayatan Hadits Secara Makna

Beberapa Ketentuan dalam Periwayatan Hadits Secara Makna
Beberapa Ketentuan dalam Periwayatan Hadits Secara Makna

Para Ulama berbeda pendapat mengenai apakah selain Sahabat boleh meriwayatkan Hadits secara makna, atau tidak boleh. Abu Bakar ibn al-‘Arabi (w. 573 H/ 1148 M) berpendapat bahwa selain Sahabat Nabi SAW tidak diperkenankan meriwayatkan Hadits secara makna. Alasan yang dikemukakan oleh Ibn al-‘Arabi adalah: pertama, Sahabat memiliki pengetahuan bahasa Arab yang tinggi (al-fashahah tua al-balaghah), dan kedua, Sahabat menyaksikan langsung keadaan dan perbuatan Nabi SAW.

Akan tetapi, kebanyakan Ulama Hadits membolehkan periwayatan Hadits secara makna meskipun dilakukan oleh selain Sahabat, namun dengan beberapa ketentuan. Di antara ketentuan-ketentuan yang disepakati para Ulama Hadits adalah:

Yang Diperbolehkan Meriwayatkan Hadits Secara Makna

Yang boleh meriwayatkan Hadits secara makna hanyalah mereka yang benar-benar memiliki pengetahuan bahasa Arab yang mendalam. Dengan demikian, periwayatan matan Hadits akan terhindar dari kekeliruan, misalnya menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

Periwayatan dengan makna dilakukan bila sangat terpaksa, misalnya karena lupa susunan secara harfiah.
Yang diriwayatkan dengan makna bukanlah sabda Nabi dalam bentuk bacaan yang sifatnya ta’abbudi, seperti bacaan zikir, doa, azan, takbir, dan syahadat, dan juga bukan sabda Nabi yang dalam bentuk jawami’ al-kalim. Periwayat yang meriwayatkan Hadits secara makna, atau yang mengalami keraguan akan susunan matan Hadits yang diriwayatkannya, agar menambahkan kata-kata او كماقال , atau اونحو هذا, atau yang semak¬na dengannya, setelah menyatakan matan Hadits yang bersangkutan. Kebolehan periwayatan Hadits secara makna hanya terbatas pada masa sebelum dibukukannya Hadits-Hadits Nabi secara resmi. Sesudah masa pembukuan (kodifikasi)-nya, maka periwayatan Hadits harus secara lafaz.

Dengan adanya ketentuan-ketentuan tersebut di atas, maka para perawi tidaklah bebas dalam meriwayatkan Hadits secara makna. Namun demikian, kebolehan melakukan periwayatan secara makna tersebut telah memberi peluang untuk terjadinya keragaman susunan redaksi matan Hadits, yang sekaligus akan membawa kepada terjadinya perbedaan kandungan matan, yang dalam hal ini yang dimaksudkan adalah redaksi Hadits itu sendiri.

Perbedaan redaksi matan Hadits tersebut terjadi terutama karena adanya perbedaan sanad Hadits, dan perbedaan sanad itu sendiri terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan perawi. Perawi yang berbeda akan menyebabkan kemungkinan terjadinya perbedaan dalam cara menerima suatu riwayat dan perbedaan dalam ketentuan yang dipedomani serta aplikasinya dalam periwayatan Hadits secara makna.

Sebagai contoh kasus, dalam hal perbedaan redaksi matan Hadits yang terjadi sebagai akibat dari perbedaan sanad, adalah Hadits tentang niat. Hadits tersebut dapat dijumpai di dalam kitab-kitab Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Al-Tirmidzi, Sunan Al- Nasa’i, Sunan Ibn Majah, dan Musnad Ahmad ibn Hanbal,33 Sahabat Nabi yang menjadi perawi pertama untuk seluruh sanad Hadits tersebut adalah ‘Umar ibn al- Khaththab. Di dalam Shahih al-Bukhari saja Hadits tersebut terdapat di tujuh tempat. Nama-nama perawinya untuk ketujuh sanad-nya tersebut adalah sama pada thabaqat (tingkatan) pertama sampai dengan yang keempat, yaitu :

Tingkatan Pertama dengan yang Keempat

Umar ibn al-Khaththab,
‘Alqamah ibn Waqqash al-Laitsi,
Muhammad ibn Ibrahim al-Tamimi, dan
Yahya ibn Sa’id al-Anshari.

Thabaqat Kelima

Akan tetapi, terdapat perbedaan perawi pada thabaqat kelima, yaitu:
Sufyan ibn Uyainah,
Malik ibn Anas,
Abd al-Wahhab, dan
Hammad ibn Zaid.

Thabaqat Keenam

Perbedaan perawi juga terjadi pada thabaqat keenam, yaitu sebelum Al-Bukhari, yakni:
Al-Humaydi Abd Allah ibn Zubair,
Abd Allah ibn Maslamah,
Muhammad ibn Katsir,
Musaddad,
Yahya ibn Qaz’ah,
Qutaibah ibn Sa’id, dan
Abu al-Nu’man.

Perbedaan yang terjadi pada sanad yang disebabkan oleh perbedaan perawi pada Hadits-Hadits Bukhari di atas, telah mengakibatkan terjadinya perbedaan-perbedaan redaksi pada matannya. Dan, perbedaan tersebut telah kelihatan sejak dari awal matan-nya yang terdiri dari lima redaksi yang bervariasi, yaitu:
Perbedaan yang ditimbulkan oleh periwayatan secara makna tidak hanya terjadi dalam hal redaksi, tetapi juga dalam hal pemilihan kata-kata, sesuai dengan perbedaan waktu dan kondisi di mana perawi itu berada, yang kata-kata tersebut diduga mengandung makna yang sama dengan kata-kata yang lazim dipergunakan pada masa Rasulullah SAW.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/