arti zalim menurut al quran

ZALAM DALAM PRESPEKTIF AL-QURAN HADIS

JENIS KEZALIMAN

Oleh : Abu Fadhel Majalengka

Zalim secara bahasa maknanya adalah meletakan sesuatu bukan pada tempatnya (wadh’usy syai-i fi ghairi maudhi’ihi). Lawan katanya adalah adil. Yakni meletakkan sesuatu pada tempatnya (wadh’usy syai-i fi maudhi’ihi).

Kalau ada orang meletakkan sandal di kepalanya, namanya zalim. Sebaliknya bila sandal diletakkan di kaki, itu adil namanya.

Para ulama membagi zalim menjadi 3 bagian. Sebagaimana dikatakan oleh seorang ulama salaf ahlussunnah wal jamaah.

✅ Berkata Qatadah dan Hasan Rahimahumallah :

الظلم ثلاثة : ظلم لا يغفر وظلم لا يترك وظلم يغفر فأما الظلم الذي لا يغفر فالشرك بالله وأما الظلم الذي لا يترك فظلم الناس بعضهم بعضا وأما الظلم الذي يغفر فظلم العبد نفسه فيما بينه وبين ربه

“Zalim itu ada tiga: Zalim yang tidak diampuni, zalim yang tidak ditinggalkan begitu saja, dan zalim yang diampuni. Adapun zalim yang tidak diampuni adalah menyekutukan Allah, Sedangkan zalim yang tidak ditinggalkan adalah kezaliman manusia antara yang satu dengan yang lainnya, adapun zalim yang diampuni adalah kezaliman seorang hamba terhadap dirinya, antara dirinya dan Rabbnyw.” (Al-Mushannaf, AbdurRazzaq, hal. 20276)

Penulis kali ini akan menguraikan ketiga macam zalim tersebut.

➡ Pertama, Zalim Yang Tidak Diampuni.
Kezaliman yang tidak diampuni adalah kezaliman seorang hamba kepada Tuhan-nya. Bentuk kezalimannya adalah dengan menyekutukanNya. Menyembah dan beribadah kepada selain Allah.

✅ Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان : 13).

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Lukman : 13).

Perbuatan syirik inilah yang menyebabkan seseorang tidak diampuni dosanya oleh Allah Ta’ala.

✅ Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (النساء : 48).

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisa 48).

✅ Dan Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (النساء : 116).

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barang siapa yang memperse-kutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisa 116).

Seandainya pelaku syirik ini tidak bertobat dengan sungguh-sungguh, maka dosa-dosanya tidak akan terampuni. Namun jika dia bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, Allah Ta’ala akan mengampuninya.

✅ Allah Ta’ala berfirman :

{وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) }

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya. (QS. Al Furqon : 68-71)


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/